Pengguna WhatsApp Indonesia Tertinggi di Dunia, Adopsi AI dan BNPL Masif

Digital 2027 Indonesia We Are Social Meltwater

Pengguna WhatsApp Indonesia Tertinggi di Dunia, Adopsi AI dan BNPL Masif (Foto: Ilustrasi)

youngster.id - We Are Social bersama Meltwater merilis laporan tahunan Digital 2027: Indonesia Report. Riset komprehensif ini memotret dinamika perkembangan dunia digital serta pergeseran perilaku masyarakat Indonesia dalam memanfaatkan internet, media sosial, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), hingga teknologi finansial.

Dengan 231 juta pengguna internet atau setara dengan 80,2% dari total populasi, Indonesia mempertahankan posisinya sebagai salah satu episentrum aktivitas digital paling aktif di dunia. Keterlibatan masyarakat yang tinggi di ekosistem digital ini turut tecermin dari rekor adopsi layanan Buy Now, Pay Later (BNPL) serta optimisme terhadap pemanfaatan teknologi AI yang menempati peringkat teratas dalam laporan global tersebut.

APAC Vice President of Enterprise Sales Meltwater, Mimrah Mahmood, menyoroti pentingnya pendekatan komunikasi yang relevan di tengah masyarakat digital yang semakin cermat menyaring informasi.

“Perhatian audiens di Indonesia perlu diperoleh melalui pendekatan yang tepat. Mereka semakin cermat dalam mencari informasi dan menyaring berbagai pesan yang diterima,” ujar Mimrah Mahmood. Ia menambahkan bahwa masyarakat Indonesia telah menjadikan teknologi digital sebagai bagian dari keseharian, meski tingkat kenyamanan terhadap teknologi seperti AI masih terus beradaptasi dengan potensi manfaat yang ditawarkannya.

Dominasi WhatsApp, Lonjakan Adopsi AI, dan Perilaku Belanja Online

Berdasarkan laporan Digital 2027, penggunaan platform digital di Indonesia mencatatkan sejumlah torehan penting di kancah global. Dari sisi aktivitas media sosial, tercatat sebanyak 240 juta identitas pengguna aktif atau setara dengan 83,2% dari total populasi. Pengguna internet berusia 16 tahun ke atas secara rata-rata mengakses 7,5 platform media sosial setiap bulan, yang menempatkan Indonesia di peringkat kedelapan tertinggi dunia.

Aplikasi messaging WhatsApp juga mencatatkan dominasi kuat dengan tingkat penetrasi mencapai 92,7% dan rata-rata waktu penggunaan 1 jam 55 menit per hari—durasi tertinggi dibandingkan seluruh negara yang tercakup dalam laporan. Di saat yang sama, sebesar 95,6% pengguna internet di Indonesia juga aktif bermain video game.

Penetrasi teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) melaju masif, di mana 94,9% pengguna internet berusia 16 tahun ke atas telah memanfaatkan tools AI dalam sebulan terakhir, menjadikan Indonesia berada di peringkat keempat tertinggi secara global. Sekitar 43,7% di antaranya menggunakan AI untuk membuat atau menyempurnakan konten visual seperti gambar dan video. Fenomena menarik terlihat dari tingkat kepercayaan publik, di mana 47,2% responden meyakini AI memberikan manfaat besar bagi masyarakat—persentase tertinggi dalam laporan—meski baru 28,3% yang menyatakan benar-benar nyaman menggunakannya.

Perilaku transaksi dan riset belanja digital juga menunjukkan tren yang menonjol. Sebanyak 73,1% pengguna internet lebih memilih berbelanja secara online dibandingkan mendatangi toko fisik, menempati posisi kedua tertinggi di dunia. Selain itu, penggunaan layanan Buy Now, Pay Later (BNPL) tercatat sangat aktif, dengan 34,7% pengguna mengakses fitur pembiayaan ini setiap minggu, atau mencapai lebih dari dua kali lipat rata-rata global.

Managing Director We Are Social Indonesia, Yudhi Hastiardi, menjelaskan bahwa perubahan perilaku konsumen ini menuntut para pelaku bisnis untuk mengubah strategi dalam membangun pertimbangan merek (brand consideration).

“Selama ini, brand berkompetisi untuk mendapatkan visibility. Namun, kini mereka juga perlu memperhatikan bagaimana brand mereka muncul dan direpresentasikan di berbagai sumber informasi yang menjadi rujukan audiens, termasuk AI. Apa yang dikatakan orang tentang sebuah brand, serta kredibilitas informasi yang menyertainya, semakin berperan dalam membentuk persepsi,” tegas Yudhi Hastiardi.

Di sisi lain, laporan ini juga mencatat tantangan bagi pengiklan, di mana Indonesia mencatat tingkat penggunaan ad blocker tertinggi sebesar 39,4%, sementara hanya 13,2% pengguna yang merasa terwakili oleh iklan konvensional yang mereka lihat. Hal ini menegaskan bahwa strategi pemasaran ke depan harus bertumpu pada kredibilitas, relevansi, dan pembangunan kepercayaan (trust) di ekosistem digital. (*AMBS)

 

Exit mobile version