AI Agent Makin Canggih, Bisa Jalankan 6 Keterampilan Sekaligus

Sovereign AI Indonesia

Perkembangan AI. (Foto: ilustrasi/istimewa)

youngster.id - Perkembangan kecerdasan buatan (AI) mulai memasuki tahap baru. Teknologi ini tidak lagi hanya digunakan untuk menjawab pertanyaan atau menghasilkan teks, tetapi mulai mampu menjalankan pekerjaan secara lebih mandiri.

“Kita tengah beralih dari chatbot pasif dan model prediktif menuju agen AI berbasis eksekusi yang benar-benar bekerja dan menghasilkan nilai nyata,” ungkap Joe Inzerillo, President of Enterprise AI and Technology Salesforce dikutip Rabu (26/8/2026).

Pernyataan tersebut sejalan dengan temuan Agentic Enterprise Index 2026 dari Salesforce yang menunjukkan kemampuan agen AI terus berkembang. Rata-rata agen AI kini mampu menjalankan enam keterampilan, meningkat dari hanya dua keterampilan pada awal 2025.

Artinya, AI agentik (agentic AI) mulai bergerak lebih jauh dari sekadar chatbot. Agen AI kini dapat menangani sejumlah tugas sekaligus dan mengambil tindakan berdasarkan data serta aturan bisnis yang diberikan.

Menurut laporan Salesforce, sebagian besar pekerjaan rutin sebelumnya hanya membutuhkan satu atau dua keterampilan sederhana dari agen AI, seperti mengakses data atau menjawab pertanyaan pelanggan.

Kini, rata-rata agen AI sudah mampu menjalankan enam keterampilan. Kemampuan tersebut bahkan meningkat ketika kebutuhan pelanggan sedang tinggi.

Di sektor ritel, misalnya, rata-rata agen AI mampu menjalankan hingga sembilan keterampilan pada puncak musim belanja. Angka ini meningkat hingga 350%.

Perubahan tersebut menunjukkan bahwa agen AI mulai digunakan untuk menangani kebutuhan pelanggan yang tidak lagi sekadar satu langkah, tetapi terdiri dari beberapa tahapan.

Perkembangan agen AI juga terlihat dari perubahan cara teknologi ini bekerja. Jika sebelumnya AI lebih banyak digunakan untuk menghasilkan jawaban, kini agen AI mulai mampu mengambil tindakan berdasarkan data dan aturan bisnis yang tersedia.

Dalam layanan pelanggan, misalnya, agen AI tidak hanya menjawab pertanyaan mengenai pesanan. Agen dapat mengakses data terkait, menerapkan aturan bisnis, kemudian memproses pengembalian dana atau menjadwalkan ulang pertemuan.

Kemampuan tersebut membuat AI semakin dekat dengan konsep digital worker, yakni teknologi yang tidak hanya memberikan informasi, tetapi juga membantu menyelesaikan pekerjaan.

“Baik ketika perusahaan mengaktifkan agen AI untuk beroperasi dalam skala besar maupun mengorkestrasikannya melalui rangkaian proses yang kompleks dan bertahap, intinya agen tersebut menghadirkan nilai nyata,” kata Joe lagi.

Peningkatan kemampuan tersebut berjalan beriringan dengan semakin cepatnya adopsi agen AI di lingkungan bisnis.

Salesforce mencatat rata-rata jumlah agen AI yang diaktifkan setiap organisasi meningkat hampir tiga kali lipat dalam setahun terakhir. Setelah mendapatkan akses, perusahaan rata-rata hanya membutuhkan waktu dua hari untuk membuat agen AI.

Waktu tersebut juga terus menurun. Selama periode analisis, waktu yang dibutuhkan untuk membuat agen AI turun 53%. Sementara itu, output pekerjaan yang dilakukan agen AI, yang diukur melalui Agentic Work Unit (AWU), tumbuh dengan tingkat pertumbuhan bulanan majemuk sebesar 15% hingga April 2026.

Perkembangan ini memperlihatkan bahwa AI tidak lagi sekadar menjadi alat untuk mencari informasi atau membuat konten. Agen AI mulai digunakan untuk menjalankan alur kerja dan menyelesaikan tugas yang membutuhkan beberapa kemampuan sekaligus.

Bagi talenta muda, perubahan ini membuat kemampuan bekerja bersama AI semakin relevan. Bukan hanya mengetahui cara menggunakan AI, tetapi juga memahami bagaimana teknologi tersebut dapat membantu menyelesaikan pekerjaan secara lebih efektif.

Dengan kemampuan yang terus berkembang, agen AI berpotensi menjadi bagian dari tenaga kerja digital yang membantu manusia menangani pekerjaan rutin hingga proses yang lebih kompleks.

 

STEVY WIDIA

Exit mobile version