youngster.id - Kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) semakin membuka peluang baru bagi kreator konten Indonesia untuk menjangkau pasar global. Tak hanya membantu mempercepat proses produksi, teknologi Generative AI juga diproyeksikan mampu memberikan nilai ekonomi hingga Rp66 triliun per tahun bagi sektor kreatif dan media.
Country Director Google Indonesia Veronica Utami mengatakan, AI seharusnya dipandang sebagai mitra yang memperkuat kreativitas manusia, bukan menggantikannya.
“Kami selalu memegang satu keyakinan utama: teknologi berada pada titik terbaiknya ketika ia menjadi mitra yang memberdayakan kreativitas manusia,” ujarnya pada peluncuran AI Economic Opportunity Report 2026 Kamis (23/7/2026).
Laporan itu menunjukkan bahwa AI mulai menjadi katalis pertumbuhan ekonomi kreatif Indonesia, mulai dari meningkatkan produktivitas kreator hingga memperluas distribusi karya ke audiens internasional.
Veronica memaparkan, berdasarkan YouTube Impact Report terbaru, ekosistem kreatif YouTube telah berkontribusi lebih dari Rp8,4 triliun bagi PDB Indonesia, mendukung lebih dari 190.000 lapangan kerja, serta membantu 81% kreator yang memperoleh pendapatan dari YouTube menjangkau audiens internasional yang sebelumnya sulit mereka akses,” kata Veronica.
Menurutnya, memasuki era AI membuat kolaborasi antara teknologi dan kreativitas manusia menjadi semakin penting.
“Saat kita memasuki era Kecerdasan Buatan atau AI, sinergi antara teknologi dan kreativitas manusia menjadi jauh lebih penting dari sebelumnya. Google dan YouTube berkomitmen untuk terus menjadi mitra yang terpercaya dalam membangun ekonomi digital dan ekonomi kreatif Indonesia yang dinamis dan berdaya AI,” ucapnya lagi.
Data Google memperkirakan penggunaan Generative AI dapat menghemat rata-rata 390 jam kerja setiap tahun bagi pekerja di sektor kreatif atau setara sekitar 50 hari kerja. Waktu tersebut dapat dimanfaatkan kreator untuk mengembangkan ide, memperkuat storytelling, hingga menghasilkan karya yang lebih berkualitas.
Selain meningkatkan efisiensi, AI juga membuka peluang baru bagi kreator lokal untuk menembus pasar internasional melalui teknologi penerjemahan otomatis, subtitle, dan dubbing berbasis AI.
Google juga memperkirakan teknologi lokalisasi tersebut berpotensi menghasilkan nilai ekspor kreatif hingga Rp6,7 triliun per tahun, karena mempermudah distribusi konten Indonesia ke berbagai negara.
Laporan YouTube Impact Report juga menunjukkan ekosistem kreatif YouTube terus memberikan kontribusi besar terhadap ekonomi nasional.
Sepanjang 2025, ekosistem YouTube menyumbang lebih dari Rp8,4 triliun terhadap PDB Indonesia dan mendukung lebih dari 190.000 lapangan kerja penuh waktu.
Tak hanya itu, sebanyak 81% kreator Indonesia memanfaatkan YouTube untuk memperkenalkan budaya, musik, dan cerita lokal kepada audiens global.
Di sisi industri media, kolaborasi dengan kreator digital juga semakin dianggap sebagai strategi bisnis yang menjanjikan. Bahkan, 81% perusahaan media Indonesia yang hadir di YouTube meyakini kemitraan dengan kreator akan menjadi salah satu sumber pertumbuhan pendapatan utama dalam lima tahun mendatang.
Google juga melihat masyarakat Indonesia semakin cepat mengadopsi AI dalam aktivitas sehari-hari.
Vice President of Government Affairs & Public Policy, Centers of Excellence Google Markham Erickson mengungkapkan, Gemini kini menjadi AI assistant yang paling banyak dicari di Indonesia. Gemini juga merupakan large language model dengan performa terbaik untuk bahasa-bahasa di Asia Tenggara.
“Ketika AI benar-benar memahami bahasa dan budaya setempat, tidak ada makna yang hilang dalam prosesnya. Masyarakat pun dapat bertukar ide, berkreasi, dan mengembangkan bisnis mereka,” ujarnya.
Menurutnya, kemampuan AI memahami bahasa Indonesia menjadi faktor penting agar teknologi tersebut benar-benar dapat dimanfaatkan oleh kreator dan pelaku industri kreatif.
Seiring meningkatnya penggunaan AI, Google juga menekankan pentingnya menjaga ekosistem digital yang aman dan terpercaya.
Perusahaan mengandalkan SynthID, teknologi watermark digital yang dapat menandai gambar, video, audio, maupun teks hasil AI. Secara global, lebih dari 100 miliar gambar dan video telah diberi watermark menggunakan teknologi tersebut.
Selain itu, YouTube terus mengembangkan Content ID, sistem yang membantu melindungi hak cipta kreator sekaligus memastikan mereka memperoleh pengakuan dan kompensasi atas karya yang digunakan pihak lain.
Sementara itu, Wakil Menteri Ekonomi Kreatif/Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif Irene Umar menilai Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi pemain utama dalam ekonomi digital berbasis AI, bukan sekadar pengguna teknologi.
“Sebagai orang Indonesia yang sangat aktif di ruang digital, saya ingin melihat orang Indonesia tidak hanya sebagai pengguna teknologi, tetapi juga sebagai faktor penentu, sebagai aktor aktif untuk mempromosikan dan menentukan akan seperti apa ruang ini nantinya,” kata Irene.
Ia menambahkan seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, komunitas, hingga platform digital, perlu berkolaborasi membangun ekosistem AI yang terbuka, inklusif, dan aman agar semakin banyak kreator Indonesia mampu bersaing di pasar global.
STEVY WIDIA
















Discussion about this post