youngster.id - Penyedia infrastruktur digital regional, Digital Edge, mengumumkan keberhasilan penutupan pendanaan perusahaan induk (holding company/HoldCo) perdana senilai US$575 juta atau sekitar Rp9,2 triliun. Fasilitas pendanaan ini menandai tonggak sejarah penting dalam evolusi perusahaan sebagai salah satu platform infrastruktur digital terkemuka di Asia-Pasifik.
Dana segar yang diperoleh dari fasilitas ini akan dialokasikan untuk mendukung perluasan wilayah (campus footprint) pusat data Digital Edge di pasar-pasar utama yang sudah ada. Wilayah tersebut mencakup Korea Selatan, Jepang, India, dan Asia Tenggara, guna memenuhi lonjakan permintaan terhadap infrastruktur hyperscale serta pusat data yang siap mengakomodasi teknologi artificial intelligence (AI).
Aksi korporasi ini mendapat dukungan kuat dari konsorsium perbankan global. Clifford Capital, Deutsche Bank, MUFG, Sumitomo Mitsui Banking Corporation, dan Standard Chartered bertindak sebagai mandated lead arrangers dan book runners. Sementara itu, BNP Paribas dan Stonepeak Credit turut bergabung sebagai mandated lead arrangers.
Menariknya, fasilitas pendanaan ini memiliki fitur inovatif yang memungkinkan Digital Edge untuk mengonversi pinjaman tersebut menjadi Sustainability-Linked Loan (SLL) di masa mendatang, setelah menyepakati target kinerja keberlanjutan yang ambisius.
“Fasilitas HoldCo ini mewakili evolusi berikutnya dari struktur modal kami, memperluas pendekatan pendanaan berkelanjutan ke tingkat korporat sekaligus memperkuat kemampuan kami untuk mengeksekusi proyek dengan cepat dan disiplin di tengah percepatan permintaan AI dan hyperscale di kawasan ini,” ujar John Freeman, Chief Executive Officer Digital Edge, Jum’at (22/5/2026).
Chief Financial Officer Digital Edge, Jonathan Walbridge, menambahkan bahwa keberhasilan ini memperkuat fleksibilitas struktur modal perusahaan. “Kemampuan untuk menyertakan langkah-langkah berbasis keberlanjutan dari waktu ke waktu mengintegrasikan akuntabilitas ESG ke dalam kerangka keuangan kami,” imbuh Walbridge.
Di Indonesia, Digital Edge merupakan penyedia infrastruktur dan pusat data carrier-neutral berskala regional yang juga bertindak sebagai induk usaha dari emiten teknologi PT Indointernet Tbk (EDGE) atau Indonet. Kehadiran Digital Edge di tanah air menjadi pilar penting dalam menyediakan fasilitas komputasi dan penyimpanan data berkapasitas besar serta latensi rendah untuk mendukung ekosistem digital nasional.
Saat ini, operasional Digital Edge di Indonesia (yang sebelumnya menggunakan merek EDGE DC sebelum berganti nama menjadi Digital Edge Indonesia) bertumpu pada beberapa aset strategis, termasuk fasilitas di Jakarta yang mengoperasikan pusat data berlokasi strategis di jantung kota Jakarta, yang terdiri dari fasilitas EDGE1 berkapasitas 6 Megawatt (MW) dan EDGE2 berkapasitas 23 MW untuk melayani kebutuhan colocation skala enterprise dan hyperscale.
Selain itu, pertumbuhan infrastruktur perusahaan juga diperkuat oleh mega proyek kampus baru di Bekasi, di mana Digital Edge tengah merealisasikan investasi masif senilai US$4,5 miliar (sekitar Rp70 triliun) untuk membangun salah satu kampus pusat data terbesar di kawasan industri daerah Bekasi, Jawa Barat.
Melalui portofolio infrastrukturnya, Digital Edge Indonesia menyediakan solusi digital terintegrasi mulai dari colocation, cross connect, remote hands, hingga interkoneksi jaringan canggih melalui layanan HSX by Indonet. Suntikan pendanaan HoldCo global ini dipastikan akan ikut mengaselerasi penyelesaian proyek-proyek raksasa mereka di tanah air demi menopang pertumbuhan ekonomi digital Indonesia yang terus melesat. (*AMBS)
