youngster.id - PT Bank Neo Commerce Tbk (BNC) membukukan laba bersih setelah pajak (Profit After Tax/PAT) sebesar Rp294,85 miliar pada Semester I 2026, naik 6,81% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp276,05 miliar. Pencapaian tersebut memperpanjang tren profitabilitas BNC yang selama dua tahun terakhir terus mencatatkan laba di tengah tantangan industri perbankan dan kondisi ekonomi global yang masih dibayangi ketidakpastian.
Direktur Utama PT Bank Neo Commerce Tbk Eri Budiono mengatakan, kinerja Semester I 2026 merupakan hasil dari strategi perusahaan yang lebih mengutamakan kualitas pertumbuhan, efisiensi operasional, serta pengelolaan risiko secara disiplin.
“Selama lebih dari lima tahun melayani nasabah sebagai salah satu pelopor bank dengan layanan digital, BNC telah membangun pengalaman, kapabilitas, serta fondasi operasional yang semakin matang. Semester I 2026 menunjukkan bahwa strategi kami untuk mengutamakan kualitas pertumbuhan, efisiensi operasional, serta pengelolaan risiko yang lebih disiplin telah memberikan hasil yang positif,” ungkap Eri dikutip Senin (3/8/2026).
Di tengah kondisi ekonomi global yang masih dipengaruhi ketidakpastian geopolitik, tingginya suku bunga, dan tantangan pada industri keuangan, BNC memilih menerapkan strategi pertumbuhan yang lebih selektif. Langkah tersebut tercermin dari penyaluran kredit yang mencapai Rp7,13 triliun, turun 11,79% dibandingkan Semester I 2025 akibat optimalisasi portofolio, terutama pada segmen komersial dan korporat.
Meski demikian, BNC tetap memperkuat pembiayaan pada segmen yang menjadi fokus utama. Penyaluran kredit ke sektor konsumer dan UMKM justru meningkat menjadi Rp5,80 triliun atau tumbuh 6,68% secara tahunan dibandingkan Rp5,44 triliun pada Semester I 2025.
Dari sisi penghimpunan dana, total Dana Pihak Ketiga (DPK) mencapai Rp12,30 triliun dengan total aset sebesar Rp17,45 triliun. Sementara itu, dana tabungan tumbuh 2,10% menjadi Rp3,39 triliun, mencerminkan kepercayaan nasabah yang tetap terjaga terhadap layanan BNC.
Pendapatan Bunga Bersih (Net Interest Income/NII) tercatat sebesar Rp1,11 triliun. Adapun pendapatan berbasis komisi (fee based income) meningkat 6,77% menjadi Rp59,66 miliar, menunjukkan kontribusi pendapatan nonbunga yang semakin besar terhadap kinerja perseroan.
Salah satu pendorong pertumbuhan tersebut berasal dari layanan QRIS. Sepanjang Semester I 2026, jumlah transaksi QRIS BNC melonjak 124% menjadi 267,4 juta transaksi dibandingkan 119,3 juta transaksi pada periode yang sama tahun lalu. Pendapatan dari layanan tersebut bahkan meningkat 246%, dari Rp7,4 miliar menjadi Rp25,8 miliar.
Efisiensi operasional juga terus membaik. Rasio BOPO turun menjadi 82,31% dari 84,81% pada Semester I 2025. Di saat yang sama, rasio Return on Assets (ROA) meningkat menjadi 3,23% dari sebelumnya 3,09%.
BNC juga mencatatkan perbaikan kualitas aset. Rasio Non Performing Loan (NPL) Gross berhasil ditekan menjadi 2,99% dari 3,10% pada periode yang sama tahun lalu. Perseroan menyebut perbaikan tersebut didukung penguatan tata kelola risiko, penyempurnaan proses underwriting digital, serta penerapan prinsip kehati-hatian dalam penyaluran kredit.
Dari sisi permodalan, rasio Capital Adequacy Ratio (CAR) meningkat menjadi 50,23% dibandingkan 41,27% pada Semester I 2025. Modal inti juga tumbuh 14,52% menjadi Rp4,20 triliun, memberikan ruang yang lebih besar bagi perseroan untuk mendukung ekspansi bisnis secara berkelanjutan.
Memasuki fase pertumbuhan berikutnya, BNC mengusung strategi “Building the Next Phase of Growth: Strengthening Performance, Technology, and Trust.” Salah satu fokus utama adalah memperkuat kapabilitas teknologi melalui pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) untuk meningkatkan fitur layanan, keamanan sistem, dan pengalaman transaksi digital bagi nasabah.
Menurut Eri, pertumbuhan ke depan tidak lagi hanya diukur dari besarnya ekspansi bisnis, tetapi dari kemampuan perusahaan menciptakan pertumbuhan yang sehat, berkelanjutan, dan dipercaya seluruh pemangku kepentingan.
“Kami percaya bahwa pertumbuhan yang berkelanjutan harus dibangun di atas fondasi kinerja yang kuat, teknologi yang semakin andal, serta kepercayaan yang terus tumbuh dari nasabah dan seluruh pemangku kepentingan,” tutup Eri.
STEVY WIDIA



















Discussion about this post