youngster.id - Perubahan perilaku konsumen dan dinamika ekosistem telah mengubah pasar e-commerce Indonesia. Tren konsumen yang kian cerdas dalam memilih produk, termasuk yang bernilai tinggi menuntut platform untuk meningkatkan standar autentisitas dan kualitas. Lazada Indonesia memprediksi, industri ini akan masuk babak confident commerce yang berbasis kepercayaan.
Prediksi perubahan ini didukung oleh data laporan e-Conomy SEA dari Google, Temasek, dan Bain & Company, yang memproyeksikan GMV e-commerce Indonesia mencapai sekitar US$140 miliar pada 2030, posisi tertinggi di Asia Tenggara.
Berangkat dari kondisi tersebut, CEO Lazada Indonesia, Carlos Barrera mengatakan, industri eCommerce kini telah beranjak dari sekadar penyedia akses pasar menjadi model bisnis yang mengutamakan kualitas.
“Dengan semakin matangnya perilaku belanja konsumen, fokus eCommerce kini adalah membangun kepercayaan diri pelanggan. Ketika rasa percaya terhadap keaslian produk dan kualitas jangka panjang sudah terbentuk, konsumen secara alami akan berbelanja dalam jumlah lebih besar, bahkan membeli produk yang lebih bernilai. Dengan demikian, eCommerce bertransformasi dari sekadar tempat transaksi, menjadi infrastruktur pertumbuhan bagi konsumen dan brand,” ungkapnya dalam pernyataan yang dikutip Sabtu (17/1/2026).
Carlos memaparkan lima tren utama yang akan membentuk lanskap e-commerce Indonesia sepanjang 2026.
“Trust” sebagai Pendorong Utama Belanja
Konsumen Indonesia kini belanja dengan tujuan yang lebih jelas: meningkatkan kualitas hidup. Bahkan, konsumen yang sensitif terhadap harga pun kini lebih selektif. Mereka memilih produk yang lebih tahan lama demi menghindari biaya tambahan di masa depan.
Menurut Carlos, pergeseran ini sangat terlihat di kalangan keluarga muda dan konsumen aspirasional. Mereka kini mengandalkan e-commerce untuk membeli barang bernilai tinggi yang menunjang gaya hidup, seperti peralatan rumah tangga, elektronik, dan produk kesehatan.
Karena keputusan belanja kini lebih terencana, faktor kepercayaan (trust) berubah dari sekadar pelengkap menjadi penggerak pertumbuhan. Laporan Cube Asia 2025 mencatat bahwa kelas menengah dan konsumen muda sangat memperhatikan aspek keamanan, terbukti dengan 80% konsumen Indonesia yang lebih memilih berbelanja di online mall karena adanya jaminan kualitas.
“Platform eCommerce harus melangkah lebih jauh dari sekadar menyediakan official store. Kita perlu membangun kepercayaan secara menyeluruh melalui sistem, tata kelola, dan perlindungan yang lebih kuat bagi seluruh ekosistem. Dengan meminimalkan risiko, platform dapat mendorong konsumen untuk lebih percaya diri dalam melakukan transaksi bernilai besar,” jelas Carlos.
Belanja untuk Melengkapi Fase Kehidupan
Kini, perilaku belanja semakin erat kaitannya dengan fase kehidupan. Konsumen memanfaatkan e-commerce untuk mendukung berbagai transisi penting, seperti membangun keluarga, merenovasi hunian, hingga memulai gaya hidup yang lebih sehat. Tren ini memicu lonjakan permintaan pada kategori produk life-upgrade, seperti elektronik, peralatan rumah tangga, furnitur, otomotif, dan kesehatan.
Dalam tren ini, brand lokal maupun global memegang peran kunci dengan menyediakan pilihan produk di berbagai rentang harga. Hal ini memberikan keleluasaan bagi konsumen untuk “naik kelas” (trade up) dan mendapatkan produk berkualitas tinggi secara terencana, tanpa harus melampaui anggaran yang mereka miliki.
Premiumisasi Berbasis Nilai Produk
Salah satu tren paling menonjol tahun ini adalah minat konsumen terhadap produk yang lebih premium tanpa meninggalkan aspek value-for-money. Konsumen yang kini lebih selektif memilih untuk melakukan “investasi”, khususnya di produk yang kualitasnya berdampak langsung pada pengalaman pengguna. Hal ini mendorong permintaan untuk brand maupun produk lebih premium di kategori seperti kecantikan, elektronik, dan kebutuhan rumah tangga.
Saat ini, konsep “premium” dan “nilai” tidak lagi saling bertentangan. Kehadiran berbagai fitur penghematan, mulai dari voucer, opsi cicilan, hingga program loyalitas seperti LazKoin, memungkinkan konsumen untuk mendapatkan produk kelas atas dengan harga yang tetap rasional. Perpaduan antara aspirasi dan kepraktisan inilah yang mendefinisikan ulang makna “keterjangkauan” di pasar e-commerce saat ini.
Membership sebagai Wujud Apresiasi Loyalitas
Konsep diskon kini telah berevolusi. Alih-alih hanya mengandalkan promosi sesaat, e-commerce beralih ke program keanggotaan, atau membership, yang menawarkan manfaat berjenjang berdasarkan besaran dan frekuensi belanja.
“Bagi Lazada, program keanggotaan bukan sekadar alat promosi, melainkan cara untuk memperkuat engagement, kepercayaan, dan kebiasaan belanja jangka panjang. Bagi brand, sistem ini menciptakan permintaan yang lebih stabil, sedangkan bagi konsumen, ini memberikan nilai tambah yang berkelanjutan. Itulah alasan kami terus memperkuat Lazada Membership agar dapat memberikan manfaat dan penawaran eksklusif bagi para pengguna setia kami,” ujar Carlos.
Kreator Konten sebagai Ujung Tombak Pertumbuhan
Di tengah tren belanja yang semakin dipengaruhi oleh ulasan autentik, kreator konten, terutama afiliator, kini berperan vital dalam menjembatani brand dengan konsumen.
“Lazada berkomitmen memberdayakan ekonomi kreator sekaligus memperkuat hubungan antara brand dan konsumen. Kami secara aktif mengedukasi dan membina para kreator melalui investasi tahunan sebesar USD100 juta dalam program Lazada Affiliate. Bagi kami, kreator bukan sekadar pemasar, melainkan mitra strategis untuk pertumbuhan jangka panjang,” katanya.
Carlos optimis bahwa Indonesia siap memasuki babak baru e-commerce. Pada tingkatan baru ini, fokus industri tidak lagi hanya pada volume transaksi, tetapi pada dampak nyata bagi kehidupan masyarakat.
“Pada akhirnya, kepercayaan dan kualitas adalah kunci masa depan. Di pasar dengan pilihan yang nyaris tanpa batas, platform yang akan terus tumbuh adalah yang mampu membantu konsumen menjalani hidup dengan lebih baik. Itulah yang menjadi komitmen utama Lazada,” pungkasnya.
STEVY WIDIA
