youngster.id - Perusahaan teknologi akuakultur asal Sleman, Yogyakarta, FisTx (PT Aditya Inovasi Makmur), mengukuhkan diri sebagai entitas pertama di Indonesia yang berhasil memproduksi sekaligus mengaplikasikan teknologi nano untuk industri budidaya udang nasional. Inovasi ini hadir sebagai solusi disinfeksi air dan aditif pakan guna mengatasi berbagai ancaman penyakit utama, seperti Enterocytozoon hepatopenaei (EHP), Acute Hepatopancreatic Necrosis Disease (AHPND), White Spot Syndrome Virus (WSSV), hingga White Feces Disease (WFD).
Melalui dua produk andalannya, yakni Nano Silver dan Nano Disinfektan (nano copper), FisTx menerapkan sistem biosekuriti berlapis. Nano Silver dicampurkan ke dalam pakan untuk memberikan perlindungan internal pada udang, sementara Nano Disinfektan ditebar ke air kolam untuk sterilisasi lingkungan.
Kedua produk tersebut mengandalkan partikel aktif berukuran 4–7 nanometer. Hasil pengujian Transmission Electron Microscope (TEM) di Laboratorium Kimia FMIPA Universitas Gadjah Mada (UGM) mengonfirmasi bahwa ukuran partikel tersebut konsisten dan terdistribusi merata tanpa mengalami pengumpalan (agregasi).
Founder & CEO FisTx, Rico Wisnu Wibisono, menjelaskan bahwa pendekatan teknologi nano ini jauh lebih efektif dan aman dibanding metode kimia konvensional.
“Selama ini petambak udang bergantung pada disinfektan kimia atau antibiotik yang memicu resistensi bakteri dan meninggalkan residu berbahaya. Teknologi nano bekerja dengan menembus langsung dinding sel patogen, menonaktifkan enzim serta produksi energinya, hingga merusak DNA patogen. Karena jalur serangannya multi-titik, bakteri Vibrio, virus WSSV, maupun spora EHP tidak sempat membangun resistensi,” terang Rico, dikutip Kamis (6/8/2026).
Teruji Aman dan Hemat Biaya Hingga 87 Persen
Selain efektivitas biologis, keunggulan teknologi FisTx juga terlihat dari efisiensi biaya dan keamanan operasional. Dari aspek ekonomi, penggunaan Nano Disinfektan terbukti mampu menghemat biaya disinfeksi lebih dari 87% dibandingkan dengan penggunaan kaporit untuk volume air yang setara.
Sementara dari sisi keamanan, uji LD-50 internal menunjukkan margin keamanan hingga 710 kali lipat antara dosis operasional dan ambang batas toksik bagi udang—berada jauh di atas standar keamanan produk sejenis.
Efektivitas produk ini di lapangan telah tervalidasi secara nyata di berbagai lokasi tambak komersial. Di Pasuruan, aplikasi rutin terbukti mampu menjaga populasi Vibrio tetap berada di bawah ambang batas aman sepanjang siklus budidaya berlangsung. Sementara itu, pada uji kolaborasi bersama PT MEN, penggunaan aditif pakan mencatatkan hasil impresif dengan menekan populasi bakteri Vibrio Green patogenik dari 38.700 CFU/ml hingga menyentuh angka nol hanya dalam kurun waktu sepuluh hari evaluasi.
Bukti Nyata Keberhasilan di Lapangan
Manfaat nyata dari Fistx Disinfection System (FDS) ini telah dirasakan langsung oleh para petambak di berbagai wilayah Indonesia. Di Kulon Progo, sebuah tambak binaan yang sempat terancam akibat lonjakan kematian udang sejak hari ke-30 (Day of Culture/DOC 30) berhasil pulih total setelah rutin mengaplikasikan Nano Disinfektan. Tambak tersebut bahkan sukses melangsungkan panen tuntas pada DOC 120 dengan ukuran (size) 28, serta menghasilkan total panen mencapai 9,5 ton dari tiga kolam.
Kemanfaatan serupa dirasakan oleh Bayu, petambak asal Pangandaran, yang mengonfirmasi keberhasilannya menekan bakteri Vibrio dan menjaga tingkat kelangsungan hidup (Survival Rate/SR) udang di atas 85% selama empat siklus berturut-turut. Sementara itu di Lampung, Iming yang telah tiga kali melakukan pengadaan Nano Disinfektan turut mengaminkan performa positif teknologi nano tersebut dalam menjaga kestabilan fasilitas budidayanya.
Hadirnya inovasi biosekuriti berbasis teknologi nano dari FisTx diharapkan dapat menjadi standar baru dalam industri akuakultur nasional, sekaligus membantu petambak meningkatkan produktivitas panen secara berkelanjutan dan ramah lingkungan. (*AMBS)
















Discussion about this post