youngster.id - Perkembangan teknologi Artificial Intelligence (AI) kini semakin cepat dan mulai memengaruhi banyak aspek kehidupan di Indonesia. Namun di tengah pesatnya perkembangan tersebut, akses terhadap teknologi AI masih belum dirasakan secara merata oleh semua kalangan. Untuk mendorong penguatan kapasitas talenta digital yang lebih inklusif di Indonesia, Microsoft berkolaborasi dengan Alunjiva Indonesia melalui program EQUAL.
Program ini fokus memberikan pelatihan kecakapan digital untuk perempuan, anak muda, dan penyandang disabilitas.
Ada 112.058 peserta yang terjaring pada batch kedua yang berakhir pada April 2026. Dari jumlah tersebut, sebanyak 66.574 peserta merupakan penyandang disabilitas, sementara 45.484 lainnya berasal dari kelompok perempuan dan pemuda.
Founder Alunjiva Indonesia, Nicky Clara mengatakan, pihaknya mendorong terciptanya ekosistem pembelajaran AI yang lebih inklusif, aksesibel, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat. Implementasi program dilakukan bersama komunitas lokal, organisasi penyandang disabilitas, institusi pendidikan, pemerintah daerah, serta jaringan fasilitator daerah yang berperan sebagai local champion dalam memperluas literasi AI di wilayahnya masing-masing.
“Bagi banyak kelompok rentan dan penyandang disabilitas, akses terhadap teknologi masih menjadi tantangan. Melalui program EQUAL, kami ingin memastikan bahwa AI tidak hanya dipahami sebagai teknologi masa depan, tetapi juga menjadi alat pemberdayaan yang dapat membuka akses, meningkatkan kapasitas, dan menciptakan peluang baru bagi semua orang,” ungkapnya dalam EQUAL Convening Summit bertajuk “Merayakan Perjalanan, Membangun Masa Depan AI yang Inklusif” di Jakarta, Senin (25/5/2026).
Menurut Nicky, program ini juga menghadirkan materi belajar yang lebih aksesibel, melibatkan fasilitator dari komunitas disabilitas, hingga membangun ruang belajar berbasis komunitas.
“Jadi, mereka tidak sekadar menjadi penonton atau konsumen pasif, melainkan bagian aktif dari ekosistem digital,” ujarnya.
Melalui program EQUAL, Microsoft dan Alunjiva Indonesia berharap pengembangan teknologi AI di Indonesia tidak hanya berfokus pada inovasi, tetapi juga pada nilai kesetaraan, aksesibilitas, dan partisipasi yang inklusif.
Sejak pelaksanaan batch pertama hingga 30 Juni 2025, program ini telah memberdayakan sebanyak 211.377 learner di berbagai wilayah Indonesia. Sementara pada batch kedua hingga 30 April 2026, jumlah learner yang berhasil dijangkau mencapai 112.058 peserta, yang terdiri dari 66.574 penyandang disabilitas serta 45.484 perempuan dan pemuda.
Capaian ini menunjukkan tingginya antusiasme masyarakat terhadap penguatan kapasitas AI yang inklusif dan mudah diakses.
Dukungan terhadap AI inklusif juga datang dari berbagai sektor, termasuk industri teknologi dan pembuat kebijakan.
President Director Microsoft Indonesia, Dharma Simorangkir mengatakan, teknologi AI seperti Microsoft Copilot diharapkan dapat membuka peluang ekonomi baru secara lebih luas.
“Microsoft percaya bahwa AI bukan sekadar teknologi, tetapi penggerak produktivitas dan peluang ekonomi di Indonesia. Melalui kolaborasi bersama berbagai mitra, salah satunya Alunjiva Indonesia, kami mendorong penguatan keterampilan AI dan pemanfaatan Microsoft Copilot agar perempuan, pemuda, dan penyandang disabilitas dapat lebih siap menghadapi transformasi digital dan membuka peluang baru di masa depan,” tuturnya.
Sementara itu, Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat menilai inklusivitas menjadi hal penting di tengah perkembangan teknologi saat ini.
“Teknologi AI sejatinya bukan untuk menggantikan manusia, melainkan untuk meluaskan ruang kesempatan. Mempercepat langkah UMKM lokal agar naik kelas, sekaligus mendobrak keterbatasan bagi kawan-kawan penyandang disabilitas untuk mandiri dan berdaya,” jelasnya.
Hal serupa juga disampaikan Pembina Setara Berdaya Group, Ridha D. M. Wirakusumah yang menekankan pentingnya teknologi memberikan dampak nyata bagi masyarakat marginal agar mereka juga dapat ikut menciptakan inovasi.
Ke depan, Microsoft dan Alunjiva Indonesia juga menyiapkan program pengembangan berkelanjutan untuk menciptakan fasilitator lokal dan penggerak komunitas yang dapat memperluas edukasi AI inklusif di berbagai daerah Indonesia.
.
STEVY WIDIA
















Discussion about this post