youngster.id - Perubahan selera dan kebutuhan konsumen membuat industri makanan dan minuman menghadapi tantangan baru. Konsumen tidak lagi hanya mempertimbangkan rasa dan harga, tetapi juga mulai memperhatikan bahan yang digunakan, kandungan gula, hingga aspek keberlanjutan dalam produk yang mereka konsumsi.
Perubahan tersebut membuat produsen makanan dan minuman perlu menyesuaikan pengembangan produk, mulai dari pemilihan bahan hingga formulasi. Cargill melihat pemahaman terhadap konsumen menjadi salah satu faktor penting bagi industri untuk menghasilkan produk yang tetap relevan di tengah perubahan tersebut.
Senior Director, Go to Market Food Manufacturing Southeast Asia, Cargill Food SEA & ANZ Stephanie Sajuti mengatakan, konsumen Indonesia semakin memperhatikan informasi mengenai bahan makanan. Kondisi ini sekaligus menjadi peluang dan tantangan bagi produsen dalam mengembangkan produk.
“Studi IngredienTracker menunjukkan bahwa konsumen Indonesia semakin memperhatikan bahan makanan, yang turut memengaruhi produk yang mereka pilih serta percakapan mereka mengenai aspek kesehatan makanan dan minuman. Persepsi ini dapat menjadi pertimbangan penting bagi produsen ketika mengembangkan produk untuk memenuhi kebutuhan konsumen yang terus berkembang,” ungkapnya dalam jumpa pers di Food Ingredients Asia (Fi Asia) 2026 Kamis (17/9/2026) di Jakarta International Expo (JIEXPO), Jakarta.
Dalam pemaparan di Food Ingredients Asia (Fi Asia) 2026, Cargill menunjukkan hasil studi APAC IngredienTracker yang memetakan persepsi konsumen terhadap sejumlah platform bahan makanan, termasuk kakao dan cokelat, pemanis, pengatur tekstur, serta lemak dan minyak.
Di Indonesia, berdasarkan pemaparan Stephanie, 89% konsumen cenderung sangat memperhatikan daftar bahan ketika pertama kali membeli produk. Konsumen juga semakin mempertimbangkan bahan yang sudah dikenal dan transparansi informasi mengenai produk.
Dari sisi kesehatan, 54% konsumen Indonesia mengikuti pola makan rendah gula dan lebih dari 80% menyatakan bersedia membayar lebih untuk produk dengan bahan yang dianggap lebih sehat. Perubahan tersebut membuat formulasi menjadi salah satu aspek penting yang perlu diperhatikan produsen.
Pasalnya, mengurangi gula pada produk tidak hanya berdampak pada tingkat kemanisan. Stephanie menjelaskan bahwa gula juga berperan terhadap body, mouthfeel, serta keseimbangan rasa. Karena itu, proses reformulasi membutuhkan pendekatan yang lebih menyeluruh agar karakter produk tetap dapat diterima konsumen.
Kebutuhan inovasi juga muncul pada aspek tekstur. Cargill menilai tekstur berpengaruh terhadap pengalaman sensoris konsumen, misalnya pada tingkat kerenyahan makanan, kekentalan saus, hingga karakter keju. Bagi produsen, aspek tersebut menjadi bagian dari kualitas produk yang dapat memengaruhi pengalaman konsumsi.
Karena itu, Cargill tidak hanya menawarkan bahan pangan, tetapi juga mengembangkan kemampuan aplikasi untuk membantu produsen menyesuaikan formulasi dengan kebutuhan produk akhir. Pendekatan tersebut mencakup pengembangan solusi pemanis, pati dan turunannya, kakao dan cokelat, serta lemak dan minyak nabati.
“Untuk itu, kami harus bekerja sama dengan customer untuk mempelajari pasar, lalu bersama-sama bekerja untuk mengembangkan produk-produk baru atau reformulasi produk baru supaya bisa memberikan offering itu ke konsumen akhir,” kata Stephanie.
Pada Fi Asia 2026, Cargill memperlihatkan sejumlah contoh penerapan bahan tersebut pada berbagai kategori makanan dan minuman. Untuk pemanis, misalnya, perusahaan menampilkan formulasi untuk produk minuman dan susu dengan kadar gula lebih rendah. Sementara pada kategori tekstur, solusi pati ditampilkan melalui aplikasi pada keju, roti, biskuit, serta saus.
Untuk kategori kakao dan cokelat, Cargill memanfaatkan fasilitas pengolahan kakao di Gresik, Jawa Timur. Fasilitas tersebut memproduksi berbagai turunan kakao sekaligus didukung Cocoa Development Centre untuk membantu pengembangan formulasi dengan karakter rasa, warna, dan sensori yang berbeda.
Cargill juga menghubungkan pengembangan bahan pangan dengan kebutuhan rantai pasok. Di Indonesia, perusahaan memiliki fasilitas pengolahan kakao di Gresik, produksi pati dan turunannya di Pandaan, serta fasilitas pengolahan poultry di Boyolali.
Stephanie menegaskan, tantangan industri pangan saat ini juga datang dari berbagai gangguan pada sistem pangan, mulai dari volatilitas logistik, ketersediaan bahan baku, fragmentasi perdagangan hingga perubahan iklim. Kondisi tersebut membuat rantai pasok yang dapat diandalkan menjadi semakin penting bagi produsen,
“Di tengah perubahan tersebut, inovasi bahan pangan menjadi bagian dari upaya industri untuk menyesuaikan produk dengan kebutuhan konsumen. Bagi produsen makanan dan minuman, tantangannya bukan hanya menciptakan produk baru, tetapi memastikan bahan, formulasi, rasa, tekstur, harga, dan ketersediaan produk dapat berjalan secara bersamaan,” pungkasnya.
STEVY WIDIA

















Discussion about this post