PGConf.Asia 2019, Upaya Tumbuhkan Ekosistem Open Source di Indonesia

Open Source PostgreSQL digelar 9-11 September 2019 di Grand Inna Bali Beach, Sanur, Bali. (Foto: istimewa/youngster.id)

youngster.id - PGConf.ASIA 2019, konferensi tingkat dunia tentang seluruh aspek software database Open Source PostgreSQL digelar di Bali. Konferensi Internasional ini mengusung tema “Saat bisnis bertemu hacker” .

Pemerintah pusat melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika turut menyambut baik perhelatan PGConf.ASIA 2019 dan menyampaikan dukungannya. “Pemerintah akan mendorong pengembangan aplikasi berbasis open source. Ada perusahaan seperti Bank BRI yang secara masif menggunakan open source. Namun demikian, pengembangan open source harus senantiasa didorong dan dipromosikan bersama baik itu oleh pemerintah, korporasi, NGO atau organisasi manapun yang ingin mengembangkan sistem database berdasarkan PostgreSQL,” kata Rudiantara, Menteri Komunikasi dan Informatika dalam sambutannya yang disiarkan melalui rekaman video.

Menurut Rudiantara, open source membebaskan ketergantungan terhadap merek dan software berbayar (proprietary) sehingga menawarkan kemandirian dan biaya lebih murah.

PGConf.ASIA merupakan ajang tahunan konferensi internasional komunitas PosgtreSQL yang biasa diselenggarakan di Jepang setiap tahunnya, namun di tahun 2019 ini, untuk pertama kali penyelenggaraannya di Indonesia.

Baca juga :   Ahmad Syarif Hidayatullah: Jadi Entrepreneur itu Sulit Tapi Mengasyikan

Konferensi tersebut mempertemukan para pengguna, pengembang, dan para ahli PostgreSQL, memaparkan rangkaian fitur baru PostgreSQL, studi kasus, kisah sukses, dan praktik terbaik saat menggunakan PostgreSQL sebagai sistem manajemen database open source. Sebanyak 30 pembicara dari Jepang, Jerman, Korea, USA, Perancis, Pakistan, India, Rusia, dan tentunya dari Indonesia, hadir untuk saling berbagi pengalaman kepada para peserta konferensi.

Salah satu tantangan Indonesia menyambut Revolusi Industri 4.0 adalah kesiapan sumber daya manusia di bidang teknologi informasi yang dirasa belum memadai baik secara kuantitas maupun kualitas untuk mencapai potensi ekonomi digital sebesar US$150 miliar pada 20253. Berdasarkan data keluaran Badan Pusat Statistik (BPS), Indeks Pembangunan Teknologi Informasi dan Komunikasi (IP-TIK) nasional 2017 masih rendah yakni di level 4,99 dari skala 1-10.4.

Sedangkan di tingkat global, Indonesia berada di urutan ke-45 dari 140 negara atau ke-4 di wilayah Asia Tenggara di dalam daftar The Global Competitiveness Report 2018 keluaran World Economic Forum.5 Di sisi wirausaha, Indonesia disebutkan baru memiliki pengusaha sebanyak 1,65% dari populasi jumlah penduduk dan diperkirakan hanya sekitar 0,43% di antaranya berbasis teknologi atau technopreneur.6 Menurut ICT Development Index 20177, Indonesia berada di peringkat 111 dari 176 negara.

Baca juga :   CIMB Niaga Berikan Beasiswa Kepada 100 Mahasiswa

STEVY WIDIA