youngster.id - Ant International, anak perusahaan Ant Group (yang didukung Alibaba), dikabarkan tengah menggalang pendanaan sekitar US$1 miliar dalam putaran investasi terbaru. Mengutip laporan dari Bloomberg, aksi korporasi ini berpotensi mendongkrak nilai valuasi Ant International hingga menyentuh angka US$10 miliar.
Sejumlah pemegang saham lama, termasuk perusahaan modal ventura global terkemuka General Atlantic dan Silver Lake, dilaporkan berada di jajaran calon investor potensial yang akan menyuntikkan modal dalam putaran ini. Pendanaan jumbo tersebut dinilai menjadi langkah strategis yang krusial untuk memuluskan kembali jalan bagi rencana penawaran umum perdana (Initial Public Offering/IPO) Ant Group di Bursa Efek Hong Kong yang telah lama tertahan.
Secara performa bisnis, lengan internasional Ant Group ini menunjukkan kinerja yang solid dengan membukukan pendapatan sebesar US$3 miliar sepanjang tahun 2024. Angka tersebut mencerminkan pertumbuhan operasional yang impresif hingga mencapai 25% pada tahun tersebut. Saat ini, Ant International telah memperluas cakupan pasarnya secara global di 220 wilayah dengan mendukung lebih dari 300 metode pembayaran lintas batas.
Upaya penggalangan dana ini memicu optimisme baru setelah drama pembatalan IPO Ant Group yang menjadi salah satu peristiwa paling disorot dalam sejarah industri fintech dunia. Pada tahun 2020 silam, Ant Group sempat bernilai fantastis mencapai US$280 miliar, namun rencana melantai di bursa tersebut mendadak dihentikan hanya beberapa hari sebelum debut akibat pengetatan regulasi besar-besaran oleh otoritas Tiongkok. Hambatan regulasi serta pembengkakan biaya penelitian dan pengembangan (R&D) selama masa restrukturisasi kemudian memangkas valuasi perusahaan secara drastis hingga tersisa sekitar US$79 miliar pada tahun 2023.
Keberhasilan putaran pendanaan baru bagi lini bisnis internasionalnya ini menjadi sinyal kuat kembalinya momentum pertumbuhan Ant Group. Masuknya modal segar ini juga mengindikasikan adanya perbaikan iklim regulasi dari pemerintah Tiongkok yang kini dinilai lebih bersahabat, sekaligus memberikan dorongan positif bagi perusahaan untuk kembali mencoba melantai di pasar saham publik. (*AMBS)
















Discussion about this post