youngster.id - Penggunaan agen kecerdasan artifisial (AI) yang semakin luas di Asia Pasifik mulai mengubah kebutuhan terhadap infrastruktur jaringan. Huawei mencatat adopsi agen AI berkembang di Indonesia, Malaysia, Vietnam, dan Thailand, termasuk untuk layanan kesehatan, pengendalian risiko keuangan, dan tata kelola perkotaan.
Namun, peningkatan penggunaan AI juga menghadirkan tantangan baru. Huawei menyebut ketidakstabilan jaringan meningkat seiring masuknya agen AI ke proses bisnis inti, sementara insiden serangan siber yang didorong AI melonjak 327%.
Hal tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam Huawei Network Summit 2026 Asia-Pacific di Bali yang diikuti lebih dari 500 pemimpin industri, pakar teknis, dan mitra ekosistem.
President of Huawei Data Communication Product Line Leon Wang mengatakan, perkembangan AI mendorong perubahan paradigma dalam pengelolaan jaringan.
“Gelombang AI global tengah mengubah wajah setiap industri, dan situasi ini mendorong pergeseran operasional jaringan menuju paradigma yang berpusat pada AI,” kata Leon dikutip Rabu (19/8/2026).
Menurutnya, jaringan perlu diperkuat dari sisi efisiensi komputasi, integrasi sensor dan komunikasi, keamanan menyeluruh, serta kemampuan otonom agar mampu mendukung perkembangan AI.
Jaringan Bergerak ke Era AI-Native
Vice President of Huawei Asia Pacific Enterprise Sales Dept Zac Chow mengatakan, meningkatnya kemampuan agen AI untuk bertindak secara otonom akan mendorong jaringan berkembang menjadi AI-native.
“Jaringan juga akan berevolusi menjadi AI-native sebagai tulang punggung bagi agen-agen cerdas,” ujarnya.
Untuk menjawab kebutuhan tersebut, Huawei memperbarui solusi Xinghe Intelligent Network dengan filosofi “Secure and Intelligent Connectivity” atau Konektivitas yang Aman dan Cerdas.
Vice President of Huawei Data Communication Product Line John Cai mengatakan, pendekatan tersebut memperluas pemanfaatan AI dalam pengelolaan jaringan sekaligus memperkuat perlindungan keamanan secara menyeluruh.
“Melalui peningkatan arsitektur ini, kami berkomitmen membangun fondasi konektivitas yang kokoh bagi setiap perusahaan di era Agentic AI,” kata John.
Solusi tersebut mencakup Xinghe AI Fabric 2.0, Xinghe Intelligent WAN, Xinghe AI Campus, dan Xinghe AI Network Security. Huawei mengklaim teknologi tersebut dapat membantu meningkatkan stabilitas jaringan, mendeteksi gangguan secara lebih cepat, serta mengotomatisasi sejumlah proses pengelolaan jaringan.
AI Hadir, Ancaman Siber Ikut Berkembang
Keamanan menjadi tantangan lain seiring meningkatnya pemanfaatan AI. Huawei menyebut 71% perusahaan di Asia Pasifik menempatkan AI sebagai perhatian utama dalam keamanan data, sementara 81% pernah mengalami insiden keamanan API.
Huawei kemudian mengembangkan Xinghe AI Network Security dengan pendekatan “memerangi AI dengan AI”. Salah satunya melalui AI firewall yang menggunakan AI Core untuk mendeteksi ancaman yang belum dikenal.
Huawei mengklaim sistem tersebut mampu mendeteksi unknown threats dengan akurasi hingga 95%, sementara HiSec AI-Guard berbasis large language model (LLM) dapat mendeteksi serangan seperti prompt injection dengan tingkat deteksi lebih dari 95%.
Huawei juga memperkenalkan lebih dari 20 produk jaringan eKit untuk usaha kecil dan menengah (UKM), yang ditujukan untuk kebutuhan seperti perkantoran, ritel, pendidikan, dan hotel.
Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa ketika AI semakin banyak digunakan dalam aktivitas bisnis, jaringan tidak lagi hanya berfungsi sebagai infrastruktur konektivitas. Jaringan dituntut menjadi lebih cerdas, otomatis, stabil, dan aman untuk menopang penerapan AI dalam skala yang lebih luas.
.
STEVY WIDIA
















Discussion about this post