youngster.id - Dua platform finansial teknologi (fintech) peer-to-peer (P2P) lending di Indonesia, Akseleran dan AwanTunai, dilaporkan tengah menghadapi tekanan operasional dan finansial yang berat. Laporan dari DealStreetAsia menyebutkan bahwa situasi ini memicu pertanyaan besar terkait kelangsungan bisnis kedua perusahaan tersebut.
Akseleran, yang bergerak di sektor pendanaan UKM, menghadapi kecaman dari para pemberi dana (lender) ritel akibat lambatnya proses pemulihan dana dari sejumlah akun yang mengalami gagal bayar (default).
Berdasarkan dokumen komunikasi perusahaan kepada lender, Akseleran dilaporkan baru berhasil menarik dana sebesar Rp3,4 miliar dari total dana tertunggak senilai Rp178,3 miliar pada enam debitur bermasalah. Hal ini menunjukkan tingkat pemulihan (recovery rate) yang sangat rendah, yaitu hanya sekitar 1,9% dalam waktu tujuh bulan.
Akibat lambatnya proses penagihan mandiri, Akseleran dikabarkan tengah mempertimbangkan untuk mengalihkan aktivitas penagihan ke pihak ketiga (third-party agency).
Laporan tersebut juga mengutip sumber anonim yang mengklaim bahwa Akseleran bersiap menutup sebagian infrastruktur teknologinya dan kantor pusatnya di Jakarta sudah tidak beroperasi secara normal. Namun, klaim penutupan kantor ini belum dapat diverifikasi secara independen.
Pada pertengahan Juli 2023 lalu, Akseleran mengumumkan rencana Initial Public Offering (IPO), dengan melepas 2,99 miliar saham ke publik. Saat itu Akseleran membidik dana segar sebesar Rp358,62 miliar lewat IPO.
Namun CEO & Co-founder Akseleran, Ivan Nikolas Tambunan mengaku pada akhir Juli 2023, bahwa rencana IPO itu batal. Alasannya, ia butuh waktu yang lebih panjang untuk mendapat investor strategis.
“Mengingat kondisi pasar saat ini, dibutuhkan waktu yang lebih panjang untuk mendapatkan strategic investor (investor strategis) yang tepat yang dapat mendukung perusahaan ke depannya. Dengan demikian, perusahaan memutuskan untuk menunda IPO untuk sementara waktu,” ungkap Ivan, ketika itu.
Sejak dirintis pada 2017, Akseleran telah menghimpun pendanaan dari sejumlah perusahaan ventura. Beberapa di antaranya termasuk Beenext3, Vulcan Sea, Central Capital Ventura, Agaeti Venture, Access Ventures, dan Ahabe Group. Akseleran terakhir kali meraih pendanaan ekuitas Seri A sebesar US$8,6 juta pada tahun 2019 silam.
Di sisi lain, AwanTunai dilaporkan sedang menghentikan sebagian besar lini bisnis pinjaman produktif tanpa jaminan (unsecured lending) untuk UKM. Langkah ini diambil setelah segmen pembiayaan tersebut dinilai tidak lagi berkelanjutan (unsustainable).
AwanTunai dikabarkan telah menutup secara permanen lini pembiayaan tanpa jaminan yang sebelumnya difokuskan pada sektor barang konsumsi cepat habis (fast-moving consumer goods/FMCG). Sebagai bagian dari upaya efisiensi anggaran, perusahaan juga telah meminta beberapa eksekutif senior untuk mengundurkan diri secara sukarela, meski jajaran direksi dilaporkan masih bertahan.
Evaluasi bisnis besar-besaran yang dilakukan AwanTunai ini sebagian dipicu oleh paparan pinjaman yang terkait dengan PT Rukun Mitra Sejati (RMS), perusahaan yang saat ini sedang berada di bawah penyelidikan pihak berwajib.
Pemilik manfaat (beneficial owner) dari RMS, Ko Xiong, telah ditetapkan sebagai tersangka oleh pihak kepolisian terkait kasus dugaan penipuan pinjaman senilai Rp600 miliar yang disalurkan melalui platform fintech lain, KoinWorks. Saat ini, Ko Xiong telah ditahan untuk proses penyelidikan lebih lanjut.
Padahal sebelumnya, AwanTunai tercatat memiliki rekam jejak pendanaan yang cukup kuat. Pada Agustus 2021, AwanTunai memperoleh pendanaan ekuitas senilai US$11.2 juta dari investor baru BRI Ventures dan OCBC NISP Ventura, serta partisipasi pendanaan dari investor yang telah ada, antara lain Insignia Ventures dan Global Brains. Selain itu Accial Capital, dan Bank OCBC NISP juga telah menyalurkan fasilitas pinjaman senilai lebih dari US$ 45 juta untuk mendukung bisnis fintech grup AwanTunai di Indonesia.
Total pendanaan dalam Series A2 US$56,2 juta digunakan untuk membiayai ekspansi dalam negeri AwanTunai, yang bertujuan untuk memajukan dan memberdayakan UMKM mikro Indonesia dengan menyediakan akses terjangkau dan cepat terhadap pembiayaan.
Selain itu, pada Agustus 2024, AwanTunai memperoleh fasilitas pinjaman sosial (social loan) sebesar Rp300 miliar HSBC Indonesia untuk mempercepat digitalisasi rantai pasok pedagang mikro. Juga, pada akhir tahun itu memperoleh pendanaan utang sindikasi senilai US$60 juta, yang dialokasikan khusus untuk memperluas jangkauan pembiayaan mikro dan UMKM. (*AMBS)



















Discussion about this post