youngster.id - Media sosial semakin menjadi bagian penting dalam perjalanan belanja konsumen di Asia Pasifik. Penemuan produk tidak lagi hanya terjadi melalui mesin pencarian atau e-commerce, tetapi juga melalui konten kreator, livestream, hingga percakapan langsung dengan bisnis.
Studi Holiday Shopping Study oleh Ipsos yang ditugaskan Meta menunjukkan 50% konsumen Asia Pasifik berbelanja secara online melalui media sosial, lebih tinggi dibandingkan rata-rata global sebesar 37%. Sebanyak 69% konsumen di kawasan ini juga berbelanja pada momen 12.12, sementara 49% berbelanja saat Black Friday.
Vice President, Asia Pacific, Meta, Benjamin Joe mengatakan, perubahan perilaku tersebut mendorong Meta membangun ekosistem yang menghubungkan konsumen, kreator, bisnis, dan teknologi AI.
“Ini bukan sekadar kumpulan produk. Ini adalah ekosistem yang mendorong konsumen melakukan tindakan setelah menemukan produk,” kata Joe dalam pemaparan pers regional Meta yang dikutip Rabu (19/8/2026)
Menurutnya, konsumen kini dapat menemukan produk melalui livestream atau rekomendasi kreator, kemudian mengajukan pertanyaan melalui chat hingga melakukan pembelian.
Kreator Dorong Penemuan Produk
Dalam studi tersebut didapati, kreator menjadi salah satu penggerak penting dalam perubahan perilaku konsumen tersebut. Meta mencatat tingkat kepercayaan konsumen Asia Pasifik terhadap rekomendasi kreator lebih tinggi dibandingkan kawasan lain.
Konsumen yang menemukan produk melalui platform Meta juga tercatat melakukan pembelian 1,3 kali lebih banyak dibandingkan konsumen di kawasan lain.
Peran kreator diperkuat melalui fitur seperti affiliate, product tagging, partnership ads, dan livestream. Dalam setahun terakhir, lebih dari 10 juta kreator di Asia Pasifik telah menghubungkan akun Facebook mereka dengan program affiliate.
Dalam satu bulan terakhir, para kreator disebut memperoleh lebih dari US$24 juta komisi melalui affiliate posts, termasuk Reels, di Facebook.
AI Beralih dari Eksperimen Menjadi Infrastruktur
Di tengah perubahan tersebut, AI juga mulai menjadi bagian dari infrastruktur bisnis. Joe mengatakan, perusahaan kini tidak lagi sekadar bereksperimen dengan AI, tetapi mulai mencari cara untuk mengintegrasikannya ke dalam operasional.
“Tahun ini, setiap pertemuan saya dengan klien, mereka ingin tahu seberapa cepat mereka dapat mengintegrasikan AI ke dalam operasional. Mereka tidak lagi bereksperimen. Mereka tengah membangun sistem,” kata Joe.
Meta mencatat 9 juta usaha kecil telah menggunakan salah satu tools kreatif berbasis AI generatif untuk membuat iklan. Meta juga mengembangkan Meta Business Agent, agen AI yang dapat membantu bisnis menjawab pertanyaan, melakukan tindak lanjut, hingga menangani pesanan pelanggan selama 24 jam.
Layanan tersebut telah digunakan oleh 1 juta bisnis secara global melalui WhatsApp dan Messenger.
Meta juga meluncurkan Small Business Growth Academy di 12 negara Asia Pasifik untuk membantu UMKM memanfaatkan berbagai tools AI melalui lokakarya dan pelatihan.
Menurut Joe, akses terhadap teknologi tersebut perlu terbuka bagi berbagai skala bisnis.
“Mulai dari seorang wirausahawan, pelaku usaha kecil, agensi, hingga tim marketing di dalam perusahaan bisa memiliki akses ke tools berbasis AI yang sama untuk menemukan pelanggan, mendorong penjualan, dan mengembangkan bisnis,” ujarnya.
Perkembangan ini menunjukkan bahwa media sosial tidak lagi sekadar menjadi kanal komunikasi. Di Asia Pasifik, platform digital mulai berkembang menjadi ekosistem discovery commerce yang menghubungkan konten kreator, AI, konsumen, dan bisnis dari tahap penemuan produk hingga transaksi.
.
STEVY WIDIA
