youngster.id - Bank Indonesia (BI) terus memperkuat penetrasi dan jangkauan sistem pembayaran digital lintas negara, QRIS Antarnegara. Langkah ini didorong oleh pertumbuhan volume transaksi yang menembus triliunan rupiah, sekaligus kesiapan Bank Sentral untuk mengekspansi jaringan pembayaran ini ke sejumlah negara strategis, seperti Arab Saudi, India, Vietnam, hingga Australia.
Konektivitas ini dirancang untuk menghubungkan ekosistem pembayaran domestik Indonesia dengan negara mitra secara interoperabel. Melalui sistem ini, masyarakat Indonesia dapat menggunakan aplikasi pembayaran lokal saat berada di luar negeri, sementara wisatawan mancanegara dapat melakukan transaksi langsung di jutaan merchant QRIS di Indonesia.
Kinerja QRIS Antarnegara: Transaksi Masuk Capai Rp5,90 Triliun
Sejak mulai diimplementasikan pada 2022 hingga Juli 2026, QRIS Antarnegara mencatatkan kinerja transaksi yang signifikan di enam negara mitra yang telah terhubung, yaitu Thailand, Malaysia, Singapura, Jepang, Korea Selatan, dan Tiongkok.
Transaksi oleh pengguna dari negara mitra di Indonesia mencapai 21 juta transaksi dengan nilai sebesar Rp5,90 triliun. Sebaliknya, transaksi pengguna Indonesia di negara mitra mencatatkan 4,67 juta transaksi senilai Rp1,73 triliun. Hasil ini memberikan surplus aliran transaksi masuk (inflow) ke Indonesia sebesar Rp4,17 triliun.
Di pasar domestik, ekosistem QRIS telah menjangkau 45,46 juta merchant, dengan 96,69% di antaranya merupakan pelaku UMKM. Secara keseluruhan, akumulasi transaksi QRIS di dalam negeri telah mencapai sekitar 15 miliar transaksi dengan jumlah pengguna aktif menyentuh 78 juta jiwa—melampaui target awal Bank Indonesia sebesar 70 juta pengguna.
Rencana Ekspansi ke Arab Saudi, India, Vietnam, dan Australia
Guna memperluas jaringan konektivitas ekonomi dan mendukung sektor pariwisata serta perdagangan, Bank Indonesia tengah melakukan pembahasan tahap awal (exploratory talks) untuk menghubungkan QRIS ke Arab Saudi, India, Vietnam, dan Australia.
Direktur Eksekutif Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran BI, Fitria Irmi Triswati, mengungkapkan bahwa kerja sama ini berpotensi dikembangkan lebih jauh, tidak hanya terbatas pada QRIS tetapi juga mencakup infrastruktur pembayaran cepat BI-FAST.
Untuk menyesuaikan kebiasaan bertransaksi di negara-negara tujuan tersebut, Bank Indonesia juga tengah menyiapkan pengembangan fitur-fitur baru. Langkah penyesuaian ini diawali dengan penerapan Customer Presented Mode (CPM), yakni mode pembayaran di mana konsumen menampilkan kode QR pada layar ponsel untuk dipindai secara langsung oleh kasir atau merchant. Selain itu, Bank Indonesia juga mematangkan inovasi QRIS-Tap, sebuah fitur pembayaran berbasis teknologi Near Field Communication (NFC) yang memungkinkan pengguna memproses transaksi secara instan cukup dengan menempelkan perangkat, tanpa perlu memindai gambar kode QR secara manual.
Raih Penghargaan Internasional “50-in-5 Awards 2026”
Sebagai pelengkap dari keberhasilan kinerja dan rencana ekspansinya, inovasi QRIS Antarnegara juga mendapatkan pengakuan global. Indonesia menyabet penghargaan 50-in-5 Awards 2026 untuk kategori Kolaborasi, yang diselenggarakan oleh Digital Public Goods Alliance (DPGA) dan Co-Develop.
Penghargaan tersebut diserahkan oleh Chief Investment Officer Co-Develop, Lindsey Crumbaugh, kepada Deputi Gubernur Bank Indonesia, Filianingsih Hendarta, dalam rangkaian 50-in-5 Milestone Event pada Sidang Majelis Umum PBB ke-81 di New York, Amerika Serikat, pada 21 September 2026.
Deputi Gubernur BI, Filianingsih Hendarta, menyampaikan bahwa penghargaan ini membuktikan keberhasilan model kolaborasi yang adaptif tanpa harus menyamakan sistem pembayaran antarnegara.
“QRIS Antarnegara menunjukkan bahwa interoperabilitas tidak mengharuskan setiap negara memiliki sistem yang sama. Yang dibutuhkan adalah kesamaan tujuan, kepercayaan, standar yang disepakati, serta komitmen untuk menghubungkan sistem yang telah dimiliki masing-masing negara,” pungkas Filianingsih, dikutip Selasa (22/9/2026).
Ke depan, Bank Indonesia akan terus memperluas QRIS Antarnegara dengan negara-negara mitra potensial, terutama yang memiliki keterhubungan ekonomi, perdagangan, pariwisata, dan mobilitas masyarakat yang kuat dengan Indonesia. (*AMBS)

















Discussion about this post