youngster.id - Pada Januari 2026, dua startup fintech Indonesia mengumumkan pendanaan dengan pola yang sama: sebagian dari ekuitas, sebagian besar dari utang. UangCermat, platform pembiayaan berbasis penggajian (payroll-backed lending), mencatatkan total US$26 juta. Dari jumlah itu, hanya US$6,4 juta berupa ekuitas Seri A yang dipimpin Cocoon Capital, NP Consulting, dan IFP Securities. Sisanya, US$20 juta, datang sebagai kredit terstruktur dari SixPoint Capital Management untuk menopang portofolio pinjaman berbasis piutang.
Pintarnya, platform layanan keuangan dan ketenagakerjaan untuk pekerja kerah biru, menempuh jalur serupa. Setelah menutup Seri A senilai US$16,7 juta (sekitar Rp271 miliar) yang dipimpin Square Peg pada 2025, perusahaan ini mendapat fasilitas kredit US$14 juta (sekitar Rp234,8 miliar) dari Growth Credit Fund milik January Capital. Total dana yang dihimpun melampaui US$30,7 juta.
Dua kasus ini mencerminkan pergeseran yang lebih luas: ekuitas tidak lagi menjadi satu-satunya pintu masuk modal bagi startup Indonesia.
Ekuitas Menyusut, Utang Menguat: Gambaran Datanya
Sisi ekuitas menunjukkan penurunan tajam. Total pendanaan ekuitas ke startup Indonesia menyusut hampir 95%, dari puncak US$6,89 miliar pada 2021 menjadi sekitar US$355,7 juta. Dalam laporan regional DealStreetAsia, pendanaan ekuitas Asia Tenggara tertahan di US$5,37 miliar, dan Indonesia berada di posisi ketiga dengan kontribusi sekitar US$340 juta hingga US$355 juta. Tech in Asia mencatat akumulasi pendanaan ekuitas ke startup Indonesia berada di level terendah dalam delapan tahun terakhir.
Sementara itu, pasar utang startup bergerak berlawanan arah. The Global Venture Debt Report, hasil kolaborasi Stride Ventures dan Kearney, mencatat nilai venture debt dunia naik 46% dalam setahun menjadi rekor US$83,4 miliar. Di pasar matang seperti Amerika Serikat dan Eropa, porsinya kini setara 20% hingga 30% dari total pendanaan VC.
Laporan Runway Growth Capital menambahkan bahwa utang tidak lagi dipandang sebagai dana talangan sekali pakai (one-time bridge loan), melainkan tahap pendanaan berulang yang mendampingi operasional startup selama bertahun-tahun.
Tiga Pendorong di Balik Pergeseran
Pertama, modal ventura makin mahal. Kenaikan suku bunga global mengerek biaya dana (cost of fund) investor institusi dan perusahaan modal ventura. Era “uang murah” untuk membakar kas (burn rate) berakhir, dan investor ekuitas menjadi jauh lebih selektif sejak tech winter.
Kedua, valuasi turun, dilusi membesar. Menggalang ekuitas di tengah tren penurunan valuasi (down round) berarti pendiri harus melepas porsi saham lebih besar untuk nominal dana yang sama. Utang bersifat non-dilutif, sehingga pendiri bisa mendapat modal besar sambil mempertahankan kendali.
Ketiga, fokus investor bergeser ke profitabilitas. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan para analis mencatat bahwa pasar tidak lagi terpukau label “startup” atau pertumbuhan pengguna semata. Fokusnya kini pada arus kas yang sehat. Startup yang sudah cukup matang pun menggunakan utang untuk kebutuhan modal kerja terukur, sedangkan ekuitas lebih cocok untuk kebutuhan jangka panjang.
Ada satu faktor struktural lain: bisnis yang menyalurkan pinjaman memang membutuhkan likuiditas tunai dalam jumlah besar. Kebutuhan seperti ini lebih efisien dipenuhi fasilitas utang institusional ketimbang suntikan modal ventura murni. Itu sebabnya fintech lending menjadi sektor yang paling dominan memakai skema ini.
Siapa Saja yang Sudah Memakai Skema Utang
Selain Pintarnya dan UangCermat, sejumlah startup Indonesia lain telah mengamankan fasilitas kredit dengan struktur berbeda:
Kredivo (BNPL dan pembiayaan konsumen). Memakai skema fasilitas kredit gudang (warehouse debt facility) dari firma kredit swasta Amerika Serikat, Victory Park Capital, dengan akumulasi hingga US$200 juta (sekitar Rp3,1 triliun). Dana ini dikhususkan untuk memperluas penyaluran pinjaman Buy Now Pay Later tanpa menggerus ekuitas perusahaan induk.
AwanTunai (pembiayaan rantai pasok untuk peritel tradisional). Mengantongi fasilitas utang sindikasi US$60 juta yang dipimpin Accial Capital, ditambah lini kredit Rp300 miliar dari HSBC. Pembiayaan ini menyasar toko kelontong dan peritel barang konsumsi cepat saji (FMCG).
Broom (fintech-enabler otomotif). Memperoleh fasilitas kredit US$6 juta (Rp100 miliar) dari Bank DBS Indonesia, serta mengombinasikan pendanaan utang dengan putaran hibrida bersama Openspace dan MUFG Innovation Partners. Dana tersebut menyokong produk modal kerja (buyback) bagi diler mobil bekas.
Modalku/Funding Societies (P2P lending UMKM). Secara berkala menarik kredit jangka panjang dari institusi keuangan global, dengan fasilitas utang hingga US$100 juta dari investor institusi dan suntikan US$7,5 juta dari lembaga donor Norfund.
Siapa Penyedia Dananya
Ekosistem penyedia venture debt di Indonesia bertumpu pada tiga kelompok. Pertama, bank konvensional, seperti DBS Indonesia dan HSBC, yang menyalurkan pembiayaan langsung kepada startup dengan model bisnis kuat dan arus kas terukur.
Kedua, modal ventura dengan unit khusus, misalnya OCBC Ventura dengan lini venture debt berdenominasi rupiah, yang membantu startup lokal menghindari risiko selisih kurs. Ketiga, firma kredit internasional, seperti Victory Park Capital dan Accial Capital, yang menyediakan dana jangka panjang berdenominasi dolar untuk kebutuhan modal skala besar.
Pilihan denominasi ini penting. Startup dengan pendapatan rupiah yang meminjam dalam dolar menanggung risiko kurs, sehingga fasilitas rupiah menjadi nilai tambah tersendiri bagi pemain lokal.
Pola yang Sama di Asia Tenggara
Tren ini tidak hanya terjadi di Indonesia. Pada Januari 2026, platform BNPL Atome menaikkan fasilitas pinjaman sindikasinya menjadi US$345 juta untuk pembiayaan dan ekspansi kartu Pay Later Anywhere di Singapura, Malaysia, dan Filipina. Pada Agustus 2026, Funding Societies mengamankan fasilitas modal kerja multi-tahun dari Malaysia Debt Ventures.
Di Filipina, startup proptech Lhoopa mengombinasikan ekuitas dan utang senilai total US$6 juta dari Integra Partners pada Juni 2026. Benang merahnya sama dengan yang terlihat di Indonesia: bisnis dengan aset atau piutang terukur lebih mudah menarik modal utang.
Risiko yang Perlu Diwaspadai
Utang memberi kepastian eksekusi tanpa dilusi, tetapi harganya jelas: beban bunga, kewajiban pelunasan, dan risiko refinancing saat fasilitas jatuh tempo. Karena itu, para pengamat menilai skema ini cocok bagi startup yang sudah punya arus kas atau portofolio pinjaman (loan book) yang jelas. Startup tahap awal yang masih mencari product-market fit dinilai tetap lebih aman bertumpu pada ekuitas, sebab belum memiliki pendapatan yang bisa menopang cicilan.
Pergeseran ini menandai kedewasaan pasar. Pendiri startup Indonesia kini dituntut membuktikan keandalan model bisnis, arus kas, dan basis aset mereka sebelum memilih instrumen pendanaan. Ekuitas tidak hilang, tetapi perannya bergeser: utang terstruktur mengisi kebutuhan likuiditas operasional yang terukur, sementara ekuitas tetap menjadi bahan bakar bagi tahap awal dan eksperimen model bisnis. (*AMBS)
















Discussion about this post