youngster.id - Penyelenggara platform pinjaman daring berizin dan diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Kredit Pintar, menegaskan komitmennya dalam mendukung program inklusi dan literasi keuangan nasional demi terwujudnya kesejahteraan finansial keluarga. Komitmen ini sejalan dengan dorongan OJK melalui Gerakan Nasional Cerdas Keuangan (GENCARKAN) dan momentum Bulan Inklusi Keuangan (BIK) 2026 yang menekankan pentingnya transparansi serta tata kelola keuangan yang bertanggung jawab.
Berdasarkan data Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026, indeks inklusi keuangan Indonesia telah mencapai 93,61%, sementara indeks literasi keuangan berada di angka 69,57%. Selama BIK 2026, OJK mencatatkan pembukaan 27,23 juta rekening dan akun keuangan, termasuk 5,87 juta akun fintech.
Meskipun akses keuangan makin terbuka luas, selisih sekitar 24 poin antara inklusi dan literasi menunjukkan pentingnya pendalaman pemahaman masyarakat dalam mengelola keuangan secara cerdas dan bijak.
Brand & Communications Head Kredit Pintar, Puji Sukaryadi, menyampaikan bahwa kemudahan akses layanan keuangan digital harus selalu diimbangi dengan pemahaman risiko yang memadai agar keberlanjutan industri tetap terjaga.
“Kepercayaan masyarakat adalah fondasi keberlangsungan industri fintech lending. Temuan survei kami di FinExpo 2026 menunjukkan bahwa mayoritas masyarakat kini makin kritis dan bijak. Peningkatan akses keuangan harus selalu berjalan beriringan dengan pemahaman risiko. Tugas kami di Kredit Pintar adalah memastikan edukasi keuangan disampaikan secara transparan agar masyarakat dapat mengambil keputusan finansial yang tepat,” ujar Puji, dikutip Selasa (3/11/2026).
Survei FinExpo 2026 dan Edukasi Pengelolaan Finansial Cerdas
Tinggi dan positifnya kesadaran finansial masyarakat terekam dalam survei konsumen yang dihimpun oleh Kredit Pintar terhadap lebih dari 300 pengunjung FinExpo 2026 di Trans Studio Mall Bandung pada 29 Oktober 2026. Hasil survei menunjukkan bahwa 32,01% responden selalu menghitung kemampuan bayar terlebih dahulu sebelum mengajukan pinjaman, sementara 28,66% responden secara cermat memeriksa rincian bunga, biaya administrasi, hingga total kewajiban pembayaran.
Survei tersebut juga mencatat bahwa alokasi kebutuhan dana darurat (41,16%) serta tambahan modal usaha (15,55%) menjadi dua alasan utama masyarakat dalam mengakses layanan pinjaman daring. Di sisi lain, transparansi bunga dan biaya tinggi (47,26%) serta perlindungan data pribadi (10,98%) masih menjadi perhatian utama para calon peminjam.
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, dalam ajang yang sama turut mengajak masyarakat untuk cerdas dalam memperoleh, membelanjakan, dan menyimpan uang, serta menghindari pengajuan pinjaman yang tidak sesuai dengan kapasitas kemampuan diri.
Sejalan dengan arahan OJK dan pemerintah daerah, Kredit Pintar memandang bahwa tanggung jawab industri fintech tidak hanya berhenti pada penyaluran dana, melainkan juga pada transparansi rincian biaya, tenor, dan tanggal jatuh tempo sebelum transaksi dilakukan. Melalui pendekatan yang empati dan transparan, Kredit Pintar terus mendorong terciptanya arus kas keluarga yang sehat, ketersediaan dana darurat, dan pengelolaan kewajiban yang terukur menuju pencapaian visi Indonesia Emas 2045.
STEVY WIDIA
















Discussion about this post