Jumat, 24 Juli 2026
No Result
View All Result
youngster.id
Pratesis Ads
  • News
  • Technopreneur
  • Creativepreneur
  • Sociopreneur
  • Innovation
  • Youth Development
No Result
View All Result
youngster.id
  • News
  • Technopreneur
  • Creativepreneur
  • Sociopreneur
  • Innovation
  • Youth Development
No Result
View All Result
youngster.id
No Result
View All Result
Home News Industry

Indonesia Terancam Silent Cognitive Burden, Ini Empat Penyebab Utamanya

24 Juli 2026
in Industry
Reading Time: 3 mins read
Indonesia Terancam Silent Cognitive Burden, Ini Empat Penyebab Utamanya

Direktur Eksekutif IHDC Ray Wagiu Basrowi menjelaskan Kajian Strategis IHDC terbaru. (Foto: stevywidia/youngster.id)

0
SHARES
0
VIEWS

youngster.id - Di tengah peringatan Hari Anak Nasional, perhatian terhadap kesehatan anak tidak hanya penting untuk mencegah penyakit, tetapi juga menjaga kemampuan berpikir dan belajar mereka. Indonesia Health Development Center (IHDC) memperingatkan Indonesia berpotensi menghadapi Silent Cognitive Burden. 

Silent Cognitive Burden adalah fenomena penurunan kapasitas perkembangan kognitif anak yang berlangsung secara perlahan akibat berbagai asalah kesehatan yang selama ini kerap luput dari perhatian.

Peringatan tersebut disampaikan IHDC melalui Seri Kajian Strategis IHDC Nomor 4. Kajian ini mengidentifikasi empat determinan kesehatan yang memiliki hubungan ilmiah kuat dengan perkembangan kapasitas kognitif anak usia sekolah. Yakni gangguan refraksi mata yang tidak dikoreksi, defisiensi zat besi, defisiensi protein, dan gangguan perilaku.

Ketua Dewan Pembina IHDC sekaligus Menteri Kesehatan RI periode 2014–2019 Prof Nila F Moeloek mengatakan keempat masalah tersebut selama ini lebih sering dipandang sebagai persoalan kesehatan individu, padahal dampaknya bisa jauh lebih luas.

“Selama ini kita menganggap gangguan penglihatan, anemia, atau masalah perilaku sebagai persoalan kesehatan individual. Padahal bila terjadi pada jutaan anak Indonesia, dampaknya dapat memengaruhi kualitas modal manusia nasional. Yang hilang bukan hanya nilai rapor, tetapi juga potensi berpikir, berinovasi, dan membangun masa depan,” ungkapnya pada Kamis (23/7/2026) di Jakarta.

Berdasarkan analisis IHDC, lebih dari 8 juta anak Indonesia diperkirakan mengalami gangguan penglihatan yang belum dikoreksi. Selain itu, lebih dari 7 juta balita diperkirakan mengalami defisiensi zat besi, sementara data Kementerian Kesehatan menunjukkan lebih dari 300 ribu anak usia sekolah mengalami gangguan perilaku berupa kecemasan.

Temuan IHDC sejalan dengan perhatian lembaga internasional terhadap pentingnya perkembangan otak anak. UNICEF menyebut masa kanak-kanak sebagai periode paling menentukan bagi perkembangan kognitif karena pada tahun-tahun awal kehidupan otak membentuk lebih dari satu juta koneksi saraf setiap detik. Sementara itu, WHO menegaskan bahwa kekurangan zat besi pada anak usia dini dapat mengganggu perkembangan otak dan berdampak pada kemampuan belajar serta prestasi akademik di kemudian hari.

Nila menegaskan, dampaknya tidak hanya dirasakan pada prestasi belajar anak, tetapi juga berpotensi memengaruhi kemampuan berpikir kritis, kreativitas, hingga kualitas sumber daya manusia Indonesia pada masa depan. Apalagi pencapaian visi Indonesia Emas 2045 membutuhkan generasi yang tidak hanya sehat secara fisik, tetapi juga memiliki kemampuan berpikir dan berinovasi.

“Indonesia membutuhkan generasi yang mampu berpikir, berkreasi, memecahkan masalah, dan berinovasi. Investasi terhadap perkembangan otak anak adalah investasi terhadap daya saing bangsa,” ujarnya.

Sementara itu, Direktur Eksekutif IHDC Ray Wagiu Basrowi mengatakan, fenomena Silent Cognitive Burden menunjukkan bahwa pembangunan anak perlu bergeser dari pendekatan yang hanya berfokus pada pencegahan penyakit menuju penguatan kapasitas otak sebagai fondasi pembangunan manusia.

Untuk itu, menurut dia, pembangunan anak perlu bergeser dari pendekatan yang hanya berfokus pada pencegahan penyakit menuju penguatan kapasitas otak sebagai fondasi pembangunan manusia.

“Kajian IHDC ini mengusulkan model Community Framework, yang menjelaskan bahwa perkembangan kapasitas kognitif merupakan hasil interaksi antara faktor biologis, kualitas sensorik, fungsi neurokognitif, perilaku, dan lingkungan sosial. Kapasitas ini sebaiknya mulai diukur sejak usia anak agar mereka dapat memetakan imajinasi dan trajektori masa depannya,” kata Ray.

Kajian ini disusun berdasarkan rapid review berbagai penelitian internasional dan divalidasi bersama para pakar lintas disiplin . Menurut Ray IHDC menilai, gangguan refraksi mata yang tidak dikoreksi menjadi masalah paling mendesak karena prevalensinya tinggi, berdampak langsung terhadap proses belajar, dan relatif mudah diatasi melalui skrining mata serta penggunaan kacamata.

Selain itu, IHDC juga mendorong penguatan pencegahan anemia akibat defisiensi zat besi, peningkatan kualitas gizi anak sekolah, dan deteksi dini gangguan perilaku sebagai bagian dari strategi pembangunan sumber daya manusia.

Melalui kajian tersebut, IHDC juga memperkenalkan konsep Cognitive and Future Imaginative Capacity, yaitu kemampuan neurokognitif yang memungkinkan anak belajar secara efektif, berpikir kritis, memecahkan masalah, berkreasi, sekaligus membangun orientasi terhadap masa depan.

“Kami berharap hasil kajian ini menjadi dasar bagi pengembangan penelitian nasional mengenai Cognitive and Future Imaginative Capacity, sekaligus mendorong integrasi kebijakan kesehatan, pendidikan, dan pembangunan manusia agar perkembangan kemampuan kognitif anak menjadi bagian penting dari strategi pembangunan nasional,” pungkas Ray.

 

 

STEVY WIDIA

Tags: Hari Anak NasionalIndonesia Health Development Center (IHDC)kesehatan anakSilent Cognitive Burden
Previous Post

Pengelolaan Energi Kini Jadi Kewajiban, Indosat Business Tawarkan Solusi Terintegrasi

Next Post

37 Perusahaan Fintech Asia Tenggara Tembus Daftar Terbaik Dunia 2026

Related Posts

Netflix Family Festival 2026
Digital Business

Konten Anak dan Keluarga Sumbang 22% Total Waktu Menonton di Netflix

11 Juli 2026
0
Philips dan Shopee Dukung Pendidikan Anak Lewat 11.11 Big Charity
News

Festival Hari Anak Nasional 2021, Serukan Perlindungan Anak untuk Indonesia Maju

24 Juli 2021
0
McDonald’s Indonesia Berbagi Dengan Korban Gempa Lombok
News

McDonald’s Indonesia Rayakan Hari Anak Nasional Bersama 400 Anak Panti Asuhan di 8 Kota

24 Juli 2021
0
Load More
Next Post
CNBC World Top Fintech Companies 2026

37 Perusahaan Fintech Asia Tenggara Tembus Daftar Terbaik Dunia 2026

Discussion about this post

Recent Updates

CNBC World Top Fintech Companies 2026

37 Perusahaan Fintech Asia Tenggara Tembus Daftar Terbaik Dunia 2026

24 Juli 2026
Indonesia Terancam Silent Cognitive Burden, Ini Empat Penyebab Utamanya

Indonesia Terancam Silent Cognitive Burden, Ini Empat Penyebab Utamanya

24 Juli 2026
Pengelolaan Energi Kini Jadi Kewajiban, Indosat Business Tawarkan Solusi Terintegrasi

Pengelolaan Energi Kini Jadi Kewajiban, Indosat Business Tawarkan Solusi Terintegrasi

24 Juli 2026
Monk's Hill Ventures

Efek Aturan OJK & Restrukturisasi, Monk’s Hill Ventures Angkat Kaki dari Indonesia!

24 Juli 2026
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Dera Perdana Shopian : Ajak Milenial Berdonasi Digital

Dera Perdana Shopian : Ajak Milenial Berdonasi Digital

27 Juni 2019
Sayurbox x Blitz

Sayurbox Gunakan Motor Listrik Blitz untuk Layanan Pengiriman

10 Januari 2024
Startup Hayokerja

Startup HayoKerja Hadirkan Solusi PHL bagi Perusahaan Pencari Tenaga Kerja

25 September 2023
fraud KoinP2P - KoinWorks

Gara-Gara Kasus Fraud KoinP2P, Rusak KoinWorks Sebelanga

22 November 2025
Junaidi : Bikin Bimbel Karena Cinta Jadi Guru

Junaidi : Bikin Bimbel Karena Cinta Jadi Guru

0
Brother Indonesia Rilis Aplikasi Mobile Brother iShop

Brother Indonesia Rilis Aplikasi Mobile Brother iShop

0
Bangun Bagian Dapur, IKEA Dukung Pembuatan Film “Ini Kisah Tiga Dara”

Bangun Bagian Dapur, IKEA Dukung Pembuatan Film “Ini Kisah Tiga Dara”

0
Ferdian Yosa : Menangkap Tren di Bisnis Kuliner

Ferdian Yosa : Menangkap Tren di Bisnis Kuliner

0
CNBC World Top Fintech Companies 2026

37 Perusahaan Fintech Asia Tenggara Tembus Daftar Terbaik Dunia 2026

24 Juli 2026
Indonesia Terancam Silent Cognitive Burden, Ini Empat Penyebab Utamanya

Indonesia Terancam Silent Cognitive Burden, Ini Empat Penyebab Utamanya

24 Juli 2026
Pengelolaan Energi Kini Jadi Kewajiban, Indosat Business Tawarkan Solusi Terintegrasi

Pengelolaan Energi Kini Jadi Kewajiban, Indosat Business Tawarkan Solusi Terintegrasi

24 Juli 2026
Monk's Hill Ventures

Efek Aturan OJK & Restrukturisasi, Monk’s Hill Ventures Angkat Kaki dari Indonesia!

24 Juli 2026
  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Layanan Bisnis
Copyright © 2016 - PT Inovasi Muda Mandiri. All rights reserved
No Result
View All Result
  • News
  • Technopreneur
  • Creativepreneur
  • Sociopreneur
  • Innovation
  • Youth Development

Copyright © 2016 - PT Inovasi Muda Mandiri. All rights reserved

This website uses cookies. By continuing to use this website you are giving consent to cookies being used. Visit our Privacy and Cookie Policy.
Go to mobile version