Selasa, 26 Mei 2026
No Result
View All Result
youngster.id
Pratesis Ads
  • News
  • Technopreneur
  • Creativepreneur
  • Sociopreneur
  • Innovation
  • Youth Development
No Result
View All Result
youngster.id
  • News
  • Technopreneur
  • Creativepreneur
  • Sociopreneur
  • Innovation
  • Youth Development
No Result
View All Result
youngster.id
No Result
View All Result
Home News Startup & Entrepreneurship

Oxford Economics: Beban Regulasi Digital Tekan Inovasi dan Pendanaan Startup di Asia

26 Mei 2026
in Startup & Entrepreneurship
Reading Time: 3 mins read
Oxford Economics startup

Oxford Economics: Beban Regulasi Digital Tekan Inovasi dan Pendanaan Startup di Asia (Foto: Ilustrasi)

0
SHARES
0
VIEWS

youngster.id - Regulasi digital di kawasan Asia kini telah bergeser menjadi biaya operasional tetap (fixed operating cost) bagi perusahaan rintisan. Kebijakan ini memaksa para pelaku startup mengalihkan anggaran modal dan waktu kerja karyawan demi memenuhi kepatuhan hukum (compliance), yang pada akhirnya menekan ruang untuk berinovasi.

Fenomena tersebut terungkap dalam studi terbaru Oxford Economics mengenai dampak regulasi digital terhadap ekosistem startup di Malaysia, India, dan Korea Selatan. Riset yang diinisiasi oleh Digital Prosperity Asia (DPA) ini melibatkan survei terhadap 1.550 pemangku kepentingan di ekosistem tersebut.

Laporan ini mencatat bahwa intervensi kebijakan digital di Asia telah melonjak hingga 18 kali lipat sejak tahun 2018 menurut data Digital Policy Alert. Akibatnya, pemenuhan regulasi bukan lagi penyesuaian sekali jalan, melainkan komponen biaya struktural harian.

Skala beban kepatuhan yang harus ditanggung oleh pelaku industri baru ini tergolong sangat masif. Berdasarkan data riset, ditemukan beberapa indikator krusial: Sebanyak 88% startup menyatakan kepatuhan regulasi digital telah menciptakan hambatan operasional, di mana 28% di antaranya menyebut dampaknya berada di level besar hingga parah.

Sebanyak 71% startup mengalokasikan lebih dari 5% biaya operasional mereka hanya untuk kepatuhan hukum, dan 42% di antaranya bahkan menghabiskan lebih dari 15%. Bagi tech-firm yang baru berjalan di tahun pertama, angka ini melonjak hingga 56%.

Alokasi terbesar dari biaya kepatuhan tersebut terserap untuk menggaji staf internal khusus regulasi (43%), disusul biaya konsultan hukum dan penasihat eksternal (25%).

Beban finansial ini berdampak langsung pada pemangkasan anggaran riset. Riset mencatat 83% startup merasakan dampak negatif pada aktivitas inovasi mereka, dan 66% terpaksa mengalihkan dana pengembangan produk untuk urusan legalitas.

Dampaknya, lebih dari setengah perusahaan (56%) melaporkan terjadinya penundaan peluncuran produk atau waktu masuk ke pasar (time-to-market) yang menjadi lebih lama.

“Biaya kepatuhan dan ketidakpastian regulasi datang seketika dan meluas. Ketidakseimbangan ini pada akhirnya memengaruhi bagaimana regulasi mengintervensi inovasi, investasi, dan ekosistem startup secara luas,” ujar Henry Worthington, Managing Director of Economic Consulting di Oxford Economics.

Ketatnya pengawasan digital juga mulai memengaruhi keputusan para investor. Hampir dua pertiga (63%) investor modal ventura (venture capital) yang disurvei menyatakan bahwa faktor regulasi kini menjadi pertimbangan utama atau penggerak primer dalam menentukan ke mana mereka akan menyuntikkan modal.

Di bawah kondisi regulasi saat ini, 44% startup masih optimis melihat pertumbuhan investasi. Namun, angka optimisme tersebut langsung anjlok sisa 26% jika pemerintah menerapkan lingkungan regulasi yang jauh lebih restriktif (membatasi).

Melalui model simulasi ekonomi yang dirancang Oxford Economics untuk periode 2026 hingga 2035, dampak pengetatan aturan ini diprediksi akan sangat menekan pasar-pasar besar. Di Malaysia, regulasi yang terlalu membatasi berpotensi memangkas pendanaan modal ventura hingga 26%, atau setara dengan hilangnya potensi investasi rata-rata US$ 200 juta (sekitar Rp3,2 triliun) per tahun.

Di India, kebijakan serupa dapat mengurangi arus investasi masuk hingga 25%, setara dengan kehilangan rata-rata US$10 miliar (sekitar Rp160 triliun) per tahun.

Kasus Berbeda di Korea Selatan. Jika negara ini beralih ke pengaturan regulasi yang lebih mendukung (enabling setting), pendanaan modal ventura justru diproyeksikan melonjak 20%, atau bertambah sekitar US$1,6 miliar per tahun.

Menanggapi temuan ini, Koh Liang Wei dari Sekretariat DPA menyatakan bahwa pembuat kebijakan kini memiliki peluang penting untuk mendesain kerangka kerja yang seimbang.

“Kebijakan harus mampu memberdayakan startup dan melindungi industri kreatif tanpa memberikan beban berlebih pada perusahaan muda yang masih keterbatasan sumber daya,” tegasnya. (*AMBS)

 

Tags: Biaya KepatuhanDigital Prosperity AsiaInovasi BisnisKomdigimodal venturaOxford EconomicsRegulasi Digitalstartup Asia
Previous Post

Permenhut 6/2026 Terbit, Startup CarbonEthics Siap Dorong Investasi Karbon Komunitas Lewat Proyek Pulang Pisau

Related Posts

Google for Startups Accelerator: Southeast Asia
Startup & Entrepreneurship

Gandeng Komdigi, Google Cloud Luncurkan Akselerator Startup AI Regional Berhadiah Kredit Rp5,6 Miliar

26 Mei 2026
0
AkuSign
Technology

Ramaikan Industri PSrE, AkuSign Diluncurkan untuk Amankan Transaksi Digital

23 Mei 2026
0
Pendanaan Startup Asia Tenggara
Features

Peta Baru Pendanaan Startup Asia Tenggara

20 Mei 2026
0
Load More

Discussion about this post

Recent Updates

Oxford Economics startup

Oxford Economics: Beban Regulasi Digital Tekan Inovasi dan Pendanaan Startup di Asia

26 Mei 2026
Bimo - CarbonEtics

Permenhut 6/2026 Terbit, Startup CarbonEthics Siap Dorong Investasi Karbon Komunitas Lewat Proyek Pulang Pisau

26 Mei 2026
EBITDA SCG

EBITDA SCG Tumbuh 17% Menjadi Rp8,3 Triliun, Indonesia Jadi Penopang Utama di ASEAN

26 Mei 2026
Google for Startups Accelerator: Southeast Asia

Gandeng Komdigi, Google Cloud Luncurkan Akselerator Startup AI Regional Berhadiah Kredit Rp5,6 Miliar

26 Mei 2026
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Dera Perdana Shopian : Ajak Milenial Berdonasi Digital

Dera Perdana Shopian : Ajak Milenial Berdonasi Digital

27 Juni 2019
Sayurbox x Blitz

Sayurbox Gunakan Motor Listrik Blitz untuk Layanan Pengiriman

10 Januari 2024
Startup Hayokerja

Startup HayoKerja Hadirkan Solusi PHL bagi Perusahaan Pencari Tenaga Kerja

25 September 2023
fraud KoinP2P - KoinWorks

Gara-Gara Kasus Fraud KoinP2P, Rusak KoinWorks Sebelanga

22 November 2025
Junaidi : Bikin Bimbel Karena Cinta Jadi Guru

Junaidi : Bikin Bimbel Karena Cinta Jadi Guru

0
Brother Indonesia Rilis Aplikasi Mobile Brother iShop

Brother Indonesia Rilis Aplikasi Mobile Brother iShop

0
Bangun Bagian Dapur, IKEA Dukung Pembuatan Film “Ini Kisah Tiga Dara”

Bangun Bagian Dapur, IKEA Dukung Pembuatan Film “Ini Kisah Tiga Dara”

0
Ferdian Yosa : Menangkap Tren di Bisnis Kuliner

Ferdian Yosa : Menangkap Tren di Bisnis Kuliner

0
Oxford Economics startup

Oxford Economics: Beban Regulasi Digital Tekan Inovasi dan Pendanaan Startup di Asia

26 Mei 2026
Bimo - CarbonEtics

Permenhut 6/2026 Terbit, Startup CarbonEthics Siap Dorong Investasi Karbon Komunitas Lewat Proyek Pulang Pisau

26 Mei 2026
EBITDA SCG

EBITDA SCG Tumbuh 17% Menjadi Rp8,3 Triliun, Indonesia Jadi Penopang Utama di ASEAN

26 Mei 2026
Google for Startups Accelerator: Southeast Asia

Gandeng Komdigi, Google Cloud Luncurkan Akselerator Startup AI Regional Berhadiah Kredit Rp5,6 Miliar

26 Mei 2026
  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Layanan Bisnis
Copyright © 2016 - PT Inovasi Muda Mandiri. All rights reserved
No Result
View All Result
  • News
  • Technopreneur
  • Creativepreneur
  • Sociopreneur
  • Innovation
  • Youth Development

Copyright © 2016 - PT Inovasi Muda Mandiri. All rights reserved

This website uses cookies. By continuing to use this website you are giving consent to cookies being used. Visit our Privacy and Cookie Policy.
Go to mobile version