youngster.id - Industri teknologi asuransi (insurtech) dan perasuransian global kini menghadapi titik balik kritis akibat ancaman risiko baru yang bergerak semakin cepat. Laporan terbaru NTT DATA bertajuk Insurtech Global Outlook 2026 memperingatkan adanya lonjakan drastis pada kerugian tanpa asuransi (uninsured losses) serta tuntutan kewajiban (liability claims) yang mengancam stabilitas sektor ini.
Ancaman terbesar yang menempati urutan teratas saat ini datang dari sektor keamanan siber (cybersecurity). NTT DATA memproyeksikan kerugian akibat serangan siber yang tidak terproteksi asuransi akan meroket tajam dari US$171 miliar pada 2023 menjadi lebih dari US$700 miliar (sekitar Rp11.375 triliun) pada tahun 2030.
Selain bom waktu dari sektor siber, laporan tersebut mencatat industri insurtech juga harus menghadapi volatilitas tinggi dari dua ancaman eksternal lainnya. Pertama, Kerugian Akibat Iklim: Bencana cuaca ekstrem, banjir, dan kebakaran hutan hebat yang tidak ter-cover asuransi kini menembus total US$180 miliar (sekitar Rp2.925 triliun). Kedua, Lonjakan Klaim Kewajiban: Tuntutan hukum (liability claims) komersial merangkak naik hingga 57%.
“Di tengah kepungan risiko eksternal tersebut, industri insurtech sebenarnya memiliki peluang memangkas biaya operasional hingga 35% lewat otomatisasi berbasis AI-native dan agentic AI,” ucap NTT DATA, dikutip Rabu (17/6/2026).
Namun, ancaman internal berupa kelambatan adopsi teknologi justru menjadi batu sandungan (bottleneck). Meski 66% tenaga kerja asuransi sudah menggunakan alat bantu AI, baru 22% perusahaan yang berhasil menerapkan AI ke tahap produksi. Hambatan ini dipicu oleh masalah tata kelola (governance), krisis kepercayaan data, serta model operasional usang yang belum siap menyerap ekosistem kecerdasan buatan.
Untuk mengantisipasi ancaman yang kian kompleks, laporan NTT DATA merumuskan empat langkah taktis bagi para pelaku Insurtech. Pertama, Transformasi Proaktif Melawan Risiko: Mengubah model bisnis dari sekadar membayar klaim setelah kejadian (reactive payouts) menjadi pencegahan dan deteksi risiko dini menggunakan simulasi data dan AI.
Kedua, Penerapan ‘Responsible AI’: Memitigasi risiko kegagalan sistem AI dengan membangun aspek kepatuhan, akuntabilitas manusia, dan transparansi sejak awal operasional. Ketiga, Fokus pada Perlindungan Preventif: Merespons tren pasar di mana 67% penyedia kerja mulai meningkatkan anggaran untuk asuransi yang mengedepankan pencegahan risiko (prevention-first).
Keempat, Ekspansi Lewat ‘Embedded Insurance’: Mengurangi risiko pasar melalui kolaborasi ekosistem digital terbuka (open standards), di mana ceruk pasar asuransi tertanam (embedded insurance) telah sukses menembus US$116 miliar pada akhir 2025.
“Industri asuransi dan insurtech sedang mengalami pergeseran struktural yang masif di tengah ketidakpastian pasar. Ini adalah alarm keras, namun juga peluang bagi perusahaan untuk segera beralih ke solusi berbasis AI demi memperkuat tata kelola dan ketahanan bisnis,” tegas Bruno Abril, Global Head of Insurance, NTT DATA, Inc, dikutip Rabu (17/6/2026).
Di sisi lain, laporan ini menangkap tren unik di mana gejolak pasar ini justru memicu tingginya aktivitas pasar modal. IPO asuransi di Amerika Serikat menyentuh level tertinggi dalam 20 tahun terakhir, dengan pendanaan utang (debt financing) startup insurtech menembus US$9,5 miliar demi mempertahankan modal di tengah tingginya risiko industri. (*AMBS)



















Discussion about this post