youngster.id - Indonesia masih berdiri sebagai raksasa e-commerce di Asia Tenggara. Dengan jumlah pengguna internet yang masif dan kebiasaan belanja online yang sudah mengakar, tidak berlebihan jika Indonesia disebut sebagai pasar terbesar di kawasan. Namun di balik angka yang terlihat impresif, ada satu fakta yang mulai mencuri perhatian: pertumbuhannya melambat.
Data terbaru menunjukkan kontras yang cukup tajam. Meski Indonesia masih menjadi pasar e-commerce terbesar di Asia Tenggara dengan porsi sekitar 37% dari total transaksi kawasan, laju pertumbuhannya justru menjadi yang paling rendah. Laporan dari Momentum Works mencatat, pertumbuhan e-commerce Indonesia pada 2025 hanya sekitar 2,2% secara tahunan.
Angka ini tertinggal jauh dibanding negara lain seperti Thailand yang tumbuh lebih dari 50%, Malaysia hampir 48%, hingga Vietnam dan Filipina yang sama-sama mencatat pertumbuhan di atas 25%. Bahkan secara regional, e-commerce Asia Tenggara masih tumbuh sekitar 22,8%, menegaskan bahwa perlambatan di Indonesia terjadi di tengah momentum kawasan yang masih kuat.
Kondisi ini juga diamini oleh pelaku industri dalam negeri. Asosiasi e-commerce Indonesia, idEA, melihat perlambatan ini sebagai bagian dari dinamika yang wajar. Sekretaris Jenderal idEA, Budi Primawan, menilai bahwa meski pertumbuhan tidak lagi seagresif sebelumnya, aktivitas belanja online tetap ditopang oleh perubahan perilaku konsumen.
“Adopsi digital makin luas, tren belanja lewat aplikasi mobile dan social commerce semakin dominan,” kata Budi Primawan Sekretaris Jenderal Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA) baru-baru ini.
Di sisi lain, industri juga mulai bergerak ke arah yang lebih kompetitif dan efisien. idEA menegaskan bahwa pelaku e-commerce akan terus menjaga daya saing layanan, meski harus menyesuaikan strategi di tengah tekanan ekonomi dan perubahan pasar.
Alih-alih terus membakar uang untuk mengejar pertumbuhan, banyak pelaku industri kini mulai mengalihkan fokus ke arah yang lebih berkelanjutan. Efisiensi operasional, peningkatan margin, hingga strategi monetisasi menjadi prioritas baru.
Perubahan arah ini terasa jelas jika melihat strategi pemain besar. Platform seperti Tokopedia, Shopee, hingga Lazada kini tidak lagi sekadar berlomba menawarkan promo besar-besaran. Diskon masih ada, tetapi tidak segencar beberapa tahun lalu. Fokus mulai bergeser ke pengalaman pengguna, logistik yang lebih efisien, serta ekosistem layanan yang lebih terintegrasi.
Di sisi konsumen, perubahan perilaku juga ikut berperan. Setelah bertahun-tahun dimanjakan dengan promo dan gratis ongkir, pengguna kini menjadi lebih selektif. Mereka tidak lagi sekadar mencari harga termurah, tetapi juga mempertimbangkan kualitas produk, kecepatan pengiriman, hingga kepercayaan terhadap penjual.
Situasi ini menciptakan ekosistem yang lebih stabil, meski tidak lagi se-“meledak” sebelumnya.
Menariknya, perlambatan ini bukan berarti sinyal negatif. Justru sebaliknya, banyak analis melihat ini sebagai tanda bahwa industri e-commerce Indonesia mulai “dewasa”—fase di mana pertumbuhan tidak lagi didorong oleh ekspansi agresif semata, tetapi oleh fondasi bisnis yang lebih kuat.
Laporan dari Momentum Works juga mencatat bahwa perlambatan ini dipengaruhi oleh sejumlah faktor, mulai dari rasionalisasi GMV oleh pemain besar hingga perubahan strategi bisnis, termasuk pergeseran fokus di beberapa platform.
Di tengah kondisi tersebut, peta persaingan juga semakin terkonsolidasi. Shopee masih memimpin pasar dengan pangsa sekitar 54%, disusul kombinasi Tokopedia dan TikTok Shop sekitar 38%. Konsentrasi ini menunjukkan bahwa pertumbuhan pasar tidak lagi merata, melainkan semakin terpusat pada pemain dengan ekosistem yang kuat.
Secara keseluruhan, GMV e-commerce Asia Tenggara masih tumbuh 22,8% menjadi sekitar US$157,6 miliar. Angka ini menunjukkan bahwa kawasan masih berada dalam fase ekspansi, sementara Indonesia mulai bergerak ke fase yang lebih matang.
Pada akhirnya, cerita e-commerce Indonesia hari ini bukan lagi tentang siapa yang tumbuh paling cepat, melainkan siapa yang mampu bertahan paling lama. Dari luar mungkin terlihat melambat, tetapi di dalam, industri ini sedang berbenah—membangun fondasi untuk pertumbuhan yang lebih sehat dan berkelanjutan di masa depan.
STEVY WIDIA

















Discussion about this post