Kamis, 23 April 2026
No Result
View All Result
youngster.id
Pratesis Ads
  • News
  • Technopreneur
  • Creativepreneur
  • Sociopreneur
  • Innovation
  • Youth Development
No Result
View All Result
youngster.id
  • News
  • Technopreneur
  • Creativepreneur
  • Sociopreneur
  • Innovation
  • Youth Development
No Result
View All Result
youngster.id
No Result
View All Result
Home Headline Features

Pasar Terbesar, Tapi Melambat: Ada Apa dengan E-Commerce Indonesia?

23 April 2026
in Features
Reading Time: 2 mins read
Belanja Online

Ekonomi Digital Indonesia Tumbuh Dua Digit di 2024, E-Commerce Penyumbang Terbesar (Foto: ilustrasi)

0
SHARES
0
VIEWS

youngster.id - Indonesia masih berdiri sebagai raksasa e-commerce di Asia Tenggara. Dengan jumlah pengguna internet yang masif dan kebiasaan belanja online yang sudah mengakar, tidak berlebihan jika Indonesia disebut sebagai pasar terbesar di kawasan. Namun di balik angka yang terlihat impresif, ada satu fakta yang mulai mencuri perhatian: pertumbuhannya melambat.

Data terbaru menunjukkan kontras yang cukup tajam. Meski Indonesia masih menjadi pasar e-commerce terbesar di Asia Tenggara dengan porsi sekitar 37% dari total transaksi kawasan, laju pertumbuhannya justru menjadi yang paling rendah. Laporan dari Momentum Works mencatat, pertumbuhan e-commerce Indonesia pada 2025 hanya sekitar 2,2% secara tahunan.

Angka ini tertinggal jauh dibanding negara lain seperti Thailand yang tumbuh lebih dari 50%, Malaysia hampir 48%, hingga Vietnam dan Filipina yang sama-sama mencatat pertumbuhan di atas 25%. Bahkan secara regional, e-commerce Asia Tenggara masih tumbuh sekitar 22,8%, menegaskan bahwa perlambatan di Indonesia terjadi di tengah momentum kawasan yang masih kuat.

Baca juga :   Anteraja Luncurkan Sistem Pembayaran COD untuk Marketplace

Kondisi ini juga diamini oleh pelaku industri dalam negeri. Asosiasi e-commerce Indonesia, idEA, melihat perlambatan ini sebagai bagian dari dinamika yang wajar. Sekretaris Jenderal idEA, Budi Primawan, menilai bahwa meski pertumbuhan tidak lagi seagresif sebelumnya, aktivitas belanja online tetap ditopang oleh perubahan perilaku konsumen.

“Adopsi digital makin luas, tren belanja lewat aplikasi mobile dan social commerce semakin dominan,” kata Budi Primawan Sekretaris Jenderal Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA) baru-baru ini.

Di sisi lain, industri juga mulai bergerak ke arah yang lebih kompetitif dan efisien. idEA menegaskan bahwa pelaku e-commerce akan terus menjaga daya saing layanan, meski harus menyesuaikan strategi di tengah tekanan ekonomi dan perubahan pasar.

Alih-alih terus membakar uang untuk mengejar pertumbuhan, banyak pelaku industri kini mulai mengalihkan fokus ke arah yang lebih berkelanjutan. Efisiensi operasional, peningkatan margin, hingga strategi monetisasi menjadi prioritas baru.

Perubahan arah ini terasa jelas jika melihat strategi pemain besar. Platform seperti Tokopedia, Shopee, hingga Lazada kini tidak lagi sekadar berlomba menawarkan promo besar-besaran. Diskon masih ada, tetapi tidak segencar beberapa tahun lalu. Fokus mulai bergeser ke pengalaman pengguna, logistik yang lebih efisien, serta ekosistem layanan yang lebih terintegrasi.

Baca juga :   Bisnis Kurir 2017 Bisa Naik 25%

Di sisi konsumen, perubahan perilaku juga ikut berperan. Setelah bertahun-tahun dimanjakan dengan promo dan gratis ongkir, pengguna kini menjadi lebih selektif. Mereka tidak lagi sekadar mencari harga termurah, tetapi juga mempertimbangkan kualitas produk, kecepatan pengiriman, hingga kepercayaan terhadap penjual.

Situasi ini menciptakan ekosistem yang lebih stabil, meski tidak lagi se-“meledak” sebelumnya.

Menariknya, perlambatan ini bukan berarti sinyal negatif. Justru sebaliknya, banyak analis melihat ini sebagai tanda bahwa industri e-commerce Indonesia mulai “dewasa”—fase di mana pertumbuhan tidak lagi didorong oleh ekspansi agresif semata, tetapi oleh fondasi bisnis yang lebih kuat.

Laporan dari Momentum Works juga mencatat bahwa perlambatan ini dipengaruhi oleh sejumlah faktor, mulai dari rasionalisasi GMV oleh pemain besar hingga perubahan strategi bisnis, termasuk pergeseran fokus di beberapa platform.

Baca juga :   E-Commerce Asing Bukan Ancaman

Di tengah kondisi tersebut, peta persaingan juga semakin terkonsolidasi. Shopee masih memimpin pasar dengan pangsa sekitar 54%, disusul kombinasi Tokopedia dan TikTok Shop sekitar 38%. Konsentrasi ini menunjukkan bahwa pertumbuhan pasar tidak lagi merata, melainkan semakin terpusat pada pemain dengan ekosistem yang kuat.

Secara keseluruhan, GMV e-commerce Asia Tenggara masih tumbuh 22,8% menjadi sekitar US$157,6 miliar. Angka ini menunjukkan bahwa kawasan masih berada dalam fase ekspansi, sementara Indonesia mulai bergerak ke fase yang lebih matang.

Pada akhirnya, cerita e-commerce Indonesia hari ini bukan lagi tentang siapa yang tumbuh paling cepat, melainkan siapa yang mampu bertahan paling lama. Dari luar mungkin terlihat melambat, tetapi di dalam, industri ini sedang berbenah—membangun fondasi untuk pertumbuhan yang lebih sehat dan berkelanjutan di masa depan.

 

STEVY WIDIA

Tags: e-commerceGMV e-commerce Indonesiaindustri e-commerce Indonesiapasar e-commerce ASEANpertumbuhan e-commerce Indonesiatren e-commerce 2025
Previous Post

Hari Bumi 2026: Maybank Indonesia Kurangi Emisi Operasional 30% dan Dorong Transisi Hijau

Next Post

Lazada dan Nestlé Integrasikan AI, Ubah Cara Belanja Jadi Lebih Personal

Related Posts

ByteDance
Digital Business

Laba ByteDance Anjlok 70% Akibat Investasi Besar-Besaran di Sektor Kecerdasan Buatan

22 April 2026
0
sirclo Enterprise Brand
Digital Business

Industri E-commerce Semakin Menantang, SIRCLO Fokus ke Enterprise Brand

15 April 2026
0
ShopBack
Digital Business

ShopBack Raih Laba Bersih US$208 Juta di 2025 Usai Efisiensi Besar-besaran

13 April 2026
0
Load More
Next Post
Lazada x Nestlé

Lazada dan Nestlé Integrasikan AI, Ubah Cara Belanja Jadi Lebih Personal

Discussion about this post

Recent Updates

Lazada x Nestlé

Lazada dan Nestlé Integrasikan AI, Ubah Cara Belanja Jadi Lebih Personal

23 April 2026
Belanja Online

Pasar Terbesar, Tapi Melambat: Ada Apa dengan E-Commerce Indonesia?

23 April 2026
Maybank Indonesia - Transisi Hijau

Hari Bumi 2026: Maybank Indonesia Kurangi Emisi Operasional 30% dan Dorong Transisi Hijau

22 April 2026
Perdagangan RWA Bitget

Asia Tenggara Kuasai 81% Volume Perdagangan RWA di Bitget

22 April 2026
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Dera Perdana Shopian : Ajak Milenial Berdonasi Digital

Dera Perdana Shopian : Ajak Milenial Berdonasi Digital

27 Juni 2019
Sayurbox x Blitz

Sayurbox Gunakan Motor Listrik Blitz untuk Layanan Pengiriman

10 Januari 2024
Startup Hayokerja

Startup HayoKerja Hadirkan Solusi PHL bagi Perusahaan Pencari Tenaga Kerja

25 September 2023
fraud KoinP2P - KoinWorks

Gara-Gara Kasus Fraud KoinP2P, Rusak KoinWorks Sebelanga

22 November 2025
Junaidi : Bikin Bimbel Karena Cinta Jadi Guru

Junaidi : Bikin Bimbel Karena Cinta Jadi Guru

0
Brother Indonesia Rilis Aplikasi Mobile Brother iShop

Brother Indonesia Rilis Aplikasi Mobile Brother iShop

0
Bangun Bagian Dapur, IKEA Dukung Pembuatan Film “Ini Kisah Tiga Dara”

Bangun Bagian Dapur, IKEA Dukung Pembuatan Film “Ini Kisah Tiga Dara”

0
Ferdian Yosa : Menangkap Tren di Bisnis Kuliner

Ferdian Yosa : Menangkap Tren di Bisnis Kuliner

0
Lazada x Nestlé

Lazada dan Nestlé Integrasikan AI, Ubah Cara Belanja Jadi Lebih Personal

23 April 2026
Belanja Online

Pasar Terbesar, Tapi Melambat: Ada Apa dengan E-Commerce Indonesia?

23 April 2026
Maybank Indonesia - Transisi Hijau

Hari Bumi 2026: Maybank Indonesia Kurangi Emisi Operasional 30% dan Dorong Transisi Hijau

22 April 2026
Perdagangan RWA Bitget

Asia Tenggara Kuasai 81% Volume Perdagangan RWA di Bitget

22 April 2026
  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Layanan Bisnis
Copyright © 2016 - PT Inovasi Muda Mandiri. All rights reserved
No Result
View All Result
  • News
  • Technopreneur
  • Creativepreneur
  • Sociopreneur
  • Innovation
  • Youth Development

Copyright © 2016 - PT Inovasi Muda Mandiri. All rights reserved

This website uses cookies. By continuing to use this website you are giving consent to cookies being used. Visit our Privacy and Cookie Policy.
Go to mobile version