Dari Bakar Uang ke Buktikan Untung: Tiga Tahun Transformasi Ekosistem Startup Indonesia

Ekosistem Startup Indonesia

Dari Bakar Uang ke Buktikan Untung: Tiga Tahun Transformasi Ekosistem Startup Indonesia (Foto: Ilustrasi)

youngster.id - Pendanaan anjlok 94% dari puncak 2021. Unicorn terjerembab skandal. Tapi di sisa reruntuhan boom, ada sinyal baru yang lebih sehat — startup yang tumbuh karena unit economics, bukan karena investor bersedia rugi.

Pada awal 2025, sebuah dokumen 52 halaman beredar di kalangan investor kelas kakap Asia Tenggara. Isinya bukan pitch deck atau proyeksi pertumbuhan — melainkan laporan investigasi internal yang merobohkan salah satu narasi paling ambisius dalam sejarah startup Indonesia.

eFishery, startup akuakultur yang pernah disebut-sebut sebagai “unicorn sejati Indonesia,” terungkap telah memalsukan data keuangan secara sistematis. Pendapatan yang diklaim senilai US$752 juta selama Januari–September 2024 — dalam kenyataannya hanya US$157 juta. Laba yang dilaporkan sebesar US$16 juta adalah kebohongan; kerugian sesungguhnya menyentuh US$35,4 juta. Dari 400.000 unit feeder yang diklaim tersebar di tambak-tambak seluruh Indonesia, penyelidik hanya menemukan sekitar 24.000 unit.

Skandal eFishery bukan sekadar kisah korporasi yang ambruk. Ia adalah cermin — dan cermin itu memantulkan wajah ekosistem startup Indonesia yang selama bertahun-tahun tumbuh di atas fondasi yang jauh lebih rapuh dari yang terlihat.

Puncak yang Tak Pernah Kembali: Kronik Pendanaan 2021–2025

Untuk memahami di mana ekosistem startup Indonesia berada hari ini, perlu dilihat dari mana ia datang — dan seberapa jauh ia jatuh.

Tahun 2021 adalah puncak. Ekosistem startup Indonesia menerima total pendanaan mencapai US$6,9 miliar — angka yang melampaui imajinasi banyak pelaku industri hanya beberapa tahun sebelumnya. Crossover fund dari hedge fund global, dana pensiun, dan private equity internasional mengalir deras, memompa valuasi ke tingkat yang sulit dibenarkan secara fundamental. GoTo melantai di Bursa Efek Indonesia pada April 2022 dengan valuasi lebih dari Rp400 triliun. Bukalapak mencetak IPO terbesar dalam sejarah BEI di 2021. eFishery menutup putaran Series D senilai US$200 juta pada 2023, melonjak ke valuasi US$1,4 miliar.

Kemudian, perlahan tapi pasti, siklus berbalik.

Pada 2022, tanda-tanda pendinginan mulai terasa. Kenaikan suku bunga agresif The Fed menyedot likuiditas global. Investor yang sebelumnya “FOMO” mulai menuntut disiplin. Di Indonesia, total pendanaan mulai menyusut dari puncaknya. Pada 2023, angka itu bertahan di kisaran US$1,4 miliar — masih terlihat sehat, tapi trennya sudah jelas menurun.

Lalu datang 2024 dan 2025 dengan pukulan yang jauh lebih keras. Data dari Tracxn menunjukkan bahwa sepanjang 2025, total pendanaan startup teknologi Indonesia hanya mencapai US$213 juta — anjlok 38% dari US$345 juta pada 2024, dan merosot hingga 85% dibandingkan puncak 2023. Laporan DailySocial untuk H1 2025 bahkan lebih suram: total pendanaan hanya US$161,3 juta dari 34 transaksi yang diungkap, turun 43,5% year-on-year dari US$285,4 juta pada H1 2024.

Dalam angka yang lebih dramatis: dari US$6,9 miliar di 2021, ekosistem startup Indonesia hanya menerima US$355,7 juta sepanjang 2025 — penyusutan lebih dari 94%.

Penurunan juga merata di semua tahapan. Pendanaan seed stage turun 18% secara tahunan menjadi US$26,4 juta. Pendanaan early stage merosot 37% ke US$107 juta. Yang paling terpukul adalah late stage — turun 45% menjadi US$79,8 juta. Tahun 2025 juga tidak mencatat satu pun pendanaan jumbo di atas US$100 juta, dan tidak ada unicorn baru yang lahir.

Memasuki 2026, ritme belum pulih. Data DealStreetAsia mencatat US$297 juta dari 61 transaksi sepanjang 11 bulan pertama 2025. Per April 2026, startup Indonesia baru menghimpun US$46,3 juta dari sembilan putaran ekuitas — pasar yang masih aktif, tapi sangat selektif.

Peta Keruntuhan: Siapa Saja yang Tutup

Kontraksi pendanaan memiliki korban yang nyata. Sepanjang 2023 hingga awal 2026, deretan nama startup yang dulu familiar dari layar smartphone jutaan pengguna satu per satu berhenti beroperasi.

Tahun 2023 menjadi tahun yang pahit. JD.ID, platform e-commerce yang pernah berambisi merebut pasar ritel online Indonesia, menghentikan seluruh pemesanan pada 15 Februari 2023 dan resmi tutup pada 31 Maret 2023. Persaingan brutal dengan Shopee, Tokopedia, dan Lazada — yang masing-masing ditopang modal jauh lebih dalam — terbukti tidak dapat diimbangi. Marketplace properti Rumah.com menutup operasinya di Indonesia per 1 Desember 2023, setelah induknya PropertyGuru Group memilih fokus pada pasar yang lebih menguntungkan. Pegipegi, platform OTA yang selama 12 tahun menjadi “teman travel” jutaan orang Indonesia, mengucapkan selamat tinggal pada 11 Desember 2023.

Startup furnitur Fabelio yang sempat mendapat suntikan US$9 juta pada Juni 2022 dinyatakan pailit oleh Pengadilan Niaga Jakarta Pusat. Ketidakmampuan membayar utang menjadi pemicu akhir dari startup yang pernah menjanjikan revolusi industri furnitur lewat teknologi.

Tahun 2024 melanjutkan daftar itu. Zenius, platform edutech yang pernah mencatatkan 20 juta pengguna pada 2020, mengumumkan penghentian operasional pada awal 2024. Pengguna aktif telah menyusut drastis menjadi 4,1 juta pada November 2023 — bukti bahwa pertumbuhan pengguna tanpa retention yang kuat adalah fondasi berpasir. Perusahaan sebelumnya sudah mengakuisisi jaringan bimbingan belajar Primagama untuk pivot ke model offline, tapi langkah itu terbukti tidak cukup menyelamatkan model bisnis yang sudah bocor dari segala sisi.

Di sektor fintech, Investree — platform P2P lending yang pernah menjadi kebanggaan ekosistem — kehilangan izin usahanya dari OJK karena pelanggaran regulasi dan kinerja buruk. CEO-nya dilaporkan memasuki daftar buronan Interpol sebelum akhirnya ditangkap. KoinWorks melalui anak usahanya KoinP2P menghadapi kerugian hampir US$23 juta akibat praktik pinjaman yang bermasalah. Crowde, platform lain di segmen serupa, turut terseret dalam pusaran masalah tata kelola.

Namun pukulan paling telak adalah skandal kembar eFishery–TaniHub yang mengguncang kepercayaan sistemik. eFishery, seperti telah diuraikan, diketahui telah memalsukan laporan keuangan secara terstruktur selama bertahun-tahun. TaniHub, startup agritech lain yang pernah bernilai US$200 juta, memicu penyelidikan korupsi dan pencucian uang senilai US$25 juta yang menyeret eksekutif senior dari MDI Ventures (lengan ventura Telkom) dan BRI Ventures (lengan ventura Bank Rakyat Indonesia).

Implikasinya jauh melampaui kerugian finansial. Ketika lengan investasi BUMN sendiri terjerat skandal startup, sinyal yang dikirim kepada investor asing sangat jelas: risiko tata kelola di ekosistem ini sudah mencapai tingkat yang tidak bisa diabaikan. Temasek — investor negara Singapura yang selama ini aktif di Asia Tenggara — dilaporkan menarik diri dari transaksi early stage. Northstar Group, salah satu nama terkemuka private equity kawasan, juga tercatat mengambil jarak.

“Jika BUMN saja tidak mau berinvestasi di startup lokal karena risikonya tidak masuk akal, investor asing pun akan bertanya hal yang sama,” kata Rama Mamuaya, Wakil Ketua Amvesindo (Asosiasi Modal Ventura untuk Startup Indonesia), seperti dikutip Bloomberg.

Dari Growth-at-All-Costs ke Prove-Before-You-Scale

Di balik angka-angka pendanaan yang menyusut dan daftar startup yang tutup, ada pergeseran paradigma yang sesungguhnya lebih signifikan dan lebih permanen.

Selama era boom 2019–2021, metrik yang paling dihargai investor adalah Growth Rate dan GMV (Gross Merchandise Value). Pertanyaan “kapan profit?” dianggap kuno dan tidak relevan — bahkan sedikit menghina, seolah mempertanyakan ambisi pendiri. Bakar uang (burn rate) yang tinggi adalah tanda keyakinan pada potensi pasar. Valuasi ditentukan oleh kelipatan pendapatan, bukan earnings. Investor dari New York hingga Tokyo berlomba masuk ke putaran berikutnya sebelum valuasi naik lagi.

Model ini mengasumsikan dua hal yang kini terbukti salah: bahwa suku bunga rendah akan bertahan selamanya, dan bahwa pertumbuhan pengguna pasti akan bertransformasi menjadi monetisasi yang sehat.

Koreksi sudah dimulai sejak 2022, tapi akselerasinya terjadi justru karena skandal-skandal 2024–2025. Hari ini, investor — termasuk yang tersisa di ekosistem Indonesia — berbicara dalam bahasa yang sama sekali berbeda.

Unit economics menjadi syarat utama. Investor kini menuntut LTV:CAC ratio (rasio Lifetime Value pelanggan terhadap Customer Acquisition Cost) yang sehat, idealnya di atas 3:1. Gross margin di atas 40% menjadi penanda bisnis yang layak diskalakan. Startup yang datang dengan “kami masih investasi di pertumbuhan” tanpa bisa menunjukkan kapan unit economics akan positif hampir pasti akan pulang dengan tangan kosong.

Runway dan cash discipline menjadi pertimbangan eksistensial. Manajemen kas yang longgar — yang dulu ditoleransi selama ada “investor cadangan” yang bisa diminta — kini diperiksa cermat. Berapa bulan startup bisa beroperasi tanpa putaran pendanaan baru? Apakah ada jalur menuju cash flow positif yang konkret? Pertanyaan-pertanyaan ini yang dulu diabaikan kini menjadi gating item dalam term sheet.

Retention rate menggantikan user acquisition sebagai indikator kesehatan produk. Zenius adalah contoh paling telanjang dari konsekuensi mengabaikan ini: 20 juta pengguna terdaftar pada 2020 tidak berarti apa-apa ketika pengguna aktif menyusut menjadi 4,1 juta pada 2023. Startup yang tidak bisa membuktikan bahwa pengguna mereka kembali, menggunakan lebih banyak fitur, dan membayar lebih banyak seiring waktu — tidak memiliki bisnis yang berkelanjutan, hanya memiliki angka pemasaran.

Tata kelola bisnis yang kuat kini bukan sekadar nice-to-have — melainkan must-have. East Ventures, salah satu VC paling aktif di Indonesia, secara terbuka menyatakan bahwa due diligence mereka kini “lebih dalam dan lebih forensik.” Kontrol keuangan, kualitas pendapatan, eksposur pihak terkait, dan disiplin kas diperiksa sejak awal proses dealmaking — jauh sebelum term sheet didiskusikan.

Lima asosiasi modal ventura Asia Tenggara, dipicu oleh skandal eFishery, bahkan menyusun apa yang mereka sebut “maturation map” — kerangka kerja yang menekan investor dan pendiri untuk menerapkan standar tata kelola yang lebih ketat secara proaktif.

Kisah Dua Startup: Ketika Disiplin Berbuah

Di tengah suram, ada cerita yang berbeda.

GoTo Gojek Tokopedia — perusahaan yang selama bertahun-tahun menjadi simbol perusahaan teknologi yang “terlalu besar untuk rugi” — mulai membuktikan bahwa ekosistem digital Indonesia bisa menghasilkan laba yang nyata.

Perjalanannya panjang dan tidak linear. Pada Q4 2023, GoTo mencetak adjusted EBITDA positif untuk pertama kalinya sebesar Rp77 miliar — kecil secara nominal, tapi monumental secara simbolis. Untuk seluruh tahun 2023, kerugian adjusted EBITDA sudah menyusut 77% menjadi Rp3,7 triliun. Pada 2024, GoTo mencatat underlying profit tahunan pertamanya sebesar Rp327 miliar, berbalik dari kerugian Rp3,67 triliun setahun sebelumnya.

Lompatan terbesar terjadi pada Q3 2025, ketika GoTo mengumumkan adjusted pre-tax profit sebesar Rp62 miliar — untuk pertama kalinya dalam sejarah perusahaan. Adjusted EBITDA mencapai Rp516 miliar, naik 239% year-on-year. Core GTV menyentuh Rp102,8 triliun, tumbuh 43% year-on-year. GoTo memproyeksikan adjusted EBITDA untuk 2025 berada di kisaran Rp1,4–1,6 triliun.

Kuncinya bukan keajaiban — melainkan disiplin yang konsisten. GoTo beralih dari model berbasis insentif yang membakar kas menjadi diferensiasi produk yang mendorong loyalitas organik. Silang platform antara layanan on-demand Gojek dan layanan keuangan GoPay semakin dalam. Unit usaha Financial Technology mencatat kenaikan EBITDA 70% pada 2024.

Di sisi lain spektrum, ada Fore Coffee. Startup yang memulai perjalanannya sebagai kopi premium ala D2C ini melantai di Bursa Efek Indonesia pada April 2025, mengumpulkan Rp353,4 miliar (sekitar US$24 juta). Yang membuat peristiwa ini bermakna bukan besarnya dana yang diraih, melainkan pesannya: startup Indonesia bisa mencapai profitabilitas tanpa mengejar valuasi miliaran dolar atau bergantung selamanya pada modal ventura.

“Fore’s IPO menunjukkan apa yang bisa diraih dengan eksekusi disiplin dan tata kelola yang baik,” kata Roderick Purwana, Managing Partner East Ventures.

Siapa yang Masih Dibiayai: Peta Sektor 2025

Meski keran modal menyempit drastis, uang tidak benar-benar berhenti mengalir — ia hanya menjadi jauh lebih selektif. Peta sektor yang menerima investasi di 2025 mencerminkan pragmatisme baru ini.

New Retail menjadi sektor terbesar dengan US$130,9 juta dari 15 transaksi. Ini mencakup konvergensi live commerce dengan jaringan ritel offline-online — model bisnis yang bukan sekadar viral di media sosial, tapi punya jalur monetisasi yang jelas dan terbukti. Astro, startup pengiriman instan, menutup putaran Series C senilai US$51,9 juta — salah satu transaksi terbesar tahun itu. SIRCLO, perusahaan commerce enablement, mengamankan US$38 juta.

Fintech mengikuti dengan US$77,2 juta dari 16 transaksi. Yang menarik: debt funding di sektor ini mencapai US$264 juta dari delapan transaksi — jauh melampaui ekuitas. Ini bukan kelemahan; ini sinyal kematangan. Startup yang bisa mengakses pinjaman berbasis aset atau fasilitas kredit berarti sudah memiliki cash flow yang cukup sehat untuk dianggap layak kredit oleh lembaga keuangan.

E-commerce mengikuti di posisi ketiga dengan US$35,8 juta. Sementara itu, sektor Energy Tech berhasil mengamankan US$44,8 juta — menunjukkan pergeseran minat investor ke sektor berbasis infrastruktur dan aset nyata dengan rantai pasok jangka panjang.

Distribusi tahapan pendanaan juga bercerita: 62 dari 91 total transaksi sepanjang 2025 adalah early stage (pre-seed dan seed), menunjukkan bahwa nafsu terhadap taruhan awal masih ada. Namun modal terkonsentrasi di tahap lanjut: Series A hingga C menyerap 80% total modal (US$290 juta). Artinya, investor awal masih mau berinvestasi, tapi hanya startup yang sudah membuktikan diri yang akan mendapat suntikan signifikan untuk skala.

Tren Adopsi Pasar: Fondasi yang Tidak Goyah

Satu hal yang tidak ikut runtuh bersama pendanaan adalah pasar digitalnya sendiri.

Ekonomi digital Indonesia diproyeksikan menembus US$99 miliar pada 2025 — menempatkan Indonesia sebagai pasar digital terbesar di Asia Tenggara, jauh melampaui negara-negara tetangga. Ini bukan sekadar angka proyeksi; ini adalah konsekuensi dari 280 juta penduduk dengan penetrasi internet yang terus meningkat dan adopsi smartphone yang masif.

E-commerce Asia Tenggara mencapai GMV US$145,2 miliar pada 2024, tumbuh 12% year-on-year, dengan Indonesia berkontribusi 44% — meski pertumbuhan melambat menjadi 5%. Shopee, TikTok Shop, dan Lazada kini menguasai 84% pasar. Namun di celah antara platform-platform raksasa ini, model bisnis baru tumbuh: live commerce berkontribusi US$17,6 miliar GMV, dan channel off-platform seperti WhatsApp dan brand site menghasilkan US$16,8 miliar.

Di fintech, adopsi pembayaran digital terus tumbuh pesat. Indonesia memiliki 22,4 juta merchant terdaftar — jauh di atas negara ASEAN lain mana pun. Ekosistem ini memberi ruang yang sangat luas bagi startup fintech yang bisa membuktikan model monetisasi yang sehat.

Satu sinyal menarik lain: meski jumlah startup aktif di StartupBlink turun 10,3% dalam setahun terakhir akibat “seleksi alam,” Indonesia tetap masuk daftar enam besar dunia berdasarkan jumlah startup aktif per Juli 2025 — melampaui Jerman, Prancis, dan Spanyol. Jakarta sebagai hub startup tumbuh 5,9% dalam ranking StartupBlink 2025.

Apa yang Berubah, Apa yang Harus Berubah

Ekosistem startup Indonesia memasuki 2026 dalam kondisi yang secara paradoksal lebih sehat dari sebelumnya — meski angka pendanaannya jauh lebih kecil.

Yang berubah adalah standar. Investor kini minta unit economics sehat, bukan sekadar growth metrics. Due diligence yang “lebih forensik” — meminjam frasa East Ventures — menjadi norma baru. Startup yang datang dengan klaim pertumbuhan tanpa bisa menunjukkan jalur menuju profitabilitas, manajemen runway yang realistis, dan sistem tata kelola yang transparan, akan kesulitan menemukan check book yang terbuka.

Yang belum cukup berubah adalah infrastruktur ekosistemnya sendiri. Lima asosiasi VC Asia Tenggara memang telah menyusun kerangka kerja tata kelola bersama, tapi implementasinya bergantung pada kemauan industri yang masih belum merata. Regulasi OJK di sektor fintech sudah lebih ketat, tapi pengawasan terhadap startup di luar sektor keuangan masih jauh dari memadai.

Yang paling mengkhawatirkan adalah dampak kepercayaan jangka menengah. “Mereka telah berdampak pada kepercayaan jangka pendek dan menciptakan hambatan reputasional bagi ekosistem,” kata Roderick Purwana dari East Ventures, merujuk pada skandal-skandal 2024–2025. Kepercayaan yang runtuh membutuhkan waktu jauh lebih lama untuk dibangun kembali daripada yang dibutuhkan untuk menghancurkannya.

Tapi ada sinyal optimisme yang valid. GoTo membuktikan bahwa perusahaan teknologi Indonesia bisa profitable. Fore Coffee membuktikan bahwa IPO berbasis profitabilitas bukan mimpi. Sektor New Retail dan fintech menunjukkan bahwa investor masih bersedia menaruh uang — dengan syarat lebih ketat. Dan ekonomi digital senilai US$99 miliar bukan sekadar angka di slide deck; ia adalah pasar yang nyata dengan ratusan juta konsumen aktif.

Achmad Zaky, pendiri Bukalapak, pernah menyampaikan refleksi yang kini terasa sangat relevan: masalah terbesar Indonesia bukan kekurangan pendanaan, tapi kekurangan quality founders yang bisa mengeksekusi. Early-stage deals turun bukan karena VC kehabisan uang, tapi karena tidak ada deals yang berkualitas cukup.

Tiga tahun terakhir telah memangkas banyak hal dari ekosistem startup Indonesia — valuasi yang melambung tanpa dasar, pertumbuhan yang disubsidi tanpa ujung, dan kepercayaan yang dibangun di atas angka yang direkayasa. Yang tersisa adalah yang seharusnya memang bertahan: bisnis yang tahu berapa biaya untuk mendapatkan dan mempertahankan satu pelanggan, yang tahu kapan uang kasnya habis, dan yang memahami bahwa kepercayaan investor — sekali hancur — tidak bisa dibangun kembali hanya dengan pitch deck yang lebih meyakinkan.

Itu bukan kondisi yang nyaman untuk startup yang sedang berjuang. Tapi itu adalah kondisi yang jauh lebih sehat untuk ekosistem yang ingin tumbuh melampaui satu dekade ke depan. (*AMBS)

 

Exit mobile version